Bukan soal nostalgia. Membaca panjang melatih perhatian yang pelan-pelan kita serahkan ke layar.
Persoalan membaca buku kertas di zaman gulir tanpa henti sering kita bicarakan dengan nada marah, lalu kita lupakan begitu berita lain datang. Padahal akar masalahnya tidak berubah: keputusan dibuat jauh dari orang yang paling menanggung akibatnya.
Saya tidak sedang menawarkan jawaban tunggal. Yang saya tawarkan adalah cara bertanya yang berbeda: siapa yang diuntungkan, siapa yang membayar, dan siapa yang tidak pernah diajak bicara.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Apa yang luput
Data yang tersedia sebenarnya cukup untuk menunjukkan arah. Masalahnya, data itu jarang dibuka dan lebih jarang lagi dipakai sebagai dasar kebijakan. Di sinilah peran publik untuk terus bertanya.
Kebijakan yang baik bukan yang paling cepat diumumkan, melainkan yang paling lama bertahan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan seberapa ramai sebuah program diberitakan, melainkan seberapa nyata hidup warga berubah setelahnya.
Penulis adalah pengamat yang menulis kolom secara berkala untuk Trias News. Isi kolom adalah pendapat pribadi penulis.