Ilustrasi: banjir rob pesisir. Foto: Dok. Trias News
Ilustrasi: banjir rob pesisir. Foto: Dok. Trias News

Penurunan tanah dan naiknya air laut membuat satu kampung nelayan pindah tiga kali dalam dua puluh tahun. Selama tiga pekan, tim Trias News menelusuri dokumen, mendatangi lokasi, dan mewawancarai lebih dari dua puluh narasumber untuk memahami persoalan banjir rob pesisir.

Kepada Trias News, Rudi Hartono, pejabat dinas terkait yang dimintai keterangan, mengatakan persoalan ini tidak muncul tiba-tiba. "Tanda-tandanya sudah terlihat sejak lama, hanya saja tidak ada yang menindaklanjuti dengan serius," ujarnya.

Pihak berwenang menyatakan sedang menyiapkan langkah lanjutan. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada jadwal pasti kapan langkah tersebut akan dijalankan.

Respons dan kritik

Sementara itu, Wulan Prameswari, direktur lembaga swadaya masyarakat pemantau anggaran, menilai pendekatan yang dipakai selama ini terlalu reaktif. Ia meminta agar data dan rencana kerja dibuka kepada publik supaya bisa diawasi bersama.

Warga tidak butuh janji baru. Warga butuh kepastian kapan masalah ini selesai dan siapa yang bertanggung jawab.

Rubrik Daerah Trias News akan terus mengikuti perkembangan ini. Pembaca yang memiliki informasi tambahan dapat menghubungi redaksi melalui kanal pengaduan yang tersedia.

Dimas Arya NugrahaReporter Trias News