Penelusuran kami menemukan belasan komisaris baru berlatar belakang tim pemenangan. Sebagian tak punya rekam jejak di bidang usaha yang diawasi. Selama tiga pekan, tim Trias News menelusuri dokumen, mendatangi lokasi, dan mewawancarai lebih dari dua puluh narasumber untuk memahami persoalan kursi komisaris.
Kepada Trias News, Hasan Basri, warga yang sudah tinggal di lokasi itu selama 30 tahun, mengatakan persoalan ini tidak muncul tiba-tiba. "Tanda-tandanya sudah terlihat sejak lama, hanya saja tidak ada yang menindaklanjuti dengan serius," ujarnya.
Pihak berwenang menyatakan sedang menyiapkan langkah lanjutan. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada jadwal pasti kapan langkah tersebut akan dijalankan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Respons dan kritik
Sementara itu, Ratna Widyastuti, peneliti kebijakan publik di sebuah universitas negeri, menilai pendekatan yang dipakai selama ini terlalu reaktif. Ia meminta agar data dan rencana kerja dibuka kepada publik supaya bisa diawasi bersama.
Warga tidak butuh janji baru. Warga butuh kepastian kapan masalah ini selesai dan siapa yang bertanggung jawab.
Rubrik Politik Trias News akan terus mengikuti perkembangan ini. Pembaca yang memiliki informasi tambahan dapat menghubungi redaksi melalui kanal pengaduan yang tersedia.