Yoyok Mulyadi: Bangun Situbondo dengan Sistem Ekonomi Kebersamaan

  • Whatsapp
Wakil Bupati Situbondo, Yoyok Mulyadi

Kondusivitas dan sinergi di antara instansi vertikal menjadi salah satu faktor utama bergeraknya roda pembangunan di Kabupaten Situbondo. Sistem Ekonomi Kebersamaan diterapkan untuk memakmurkan masyarakat kabupaten berjulukan “Bumi Sholawat Nuriyah” itu.

WAKIL Bupati Situbondo, Ir. H. Yoyok Mulyadi, M.Si, mengungkapkan apresiasi dan rasa syukur atas sinergi Pemkab Situbondo dengan para pejabat instansi vertikal seperti Kapolres, Dandim, Kajari, Ketua Pengadilan, yang tergabung dalam Forkominda Situbondo.

Read More

Berkat sinergi dan kesamaan persepsi itu, pembangunan di Situbondo bisa berlangsung kondusif dan konsekuen.

Kearifan lokal di kabupaten berjulukan “Bumi Sholawat Nuriyah” itu pun dirangkum menjadi satu spirit khusus dalam derap pembangunan di Situbondo. Suasana pembangunan di Situbondo pun semakin diliputi ketenangan manakala jiwa masyarakat melalui para tokoh informal seperti kyai dan ulama  dibangun dengan sholawat-sholawat.

“Sholawat selalu kita bacakan secara massal setiap saat kita mengadakan kegiatan pembangunan,” ujar Yoyok.

Kelompok masyarakat seperti LSM selalu diajak komunikasi secara dialogis. Menurut Yoyok, sangat wajar pemerintah dikritik jika ada kebijakan-kebijakan yang mungkin membuat pihak-pihak tertentu merasa tidak nyaman.

Wakil Bupati Situbondo, Yoyok Mulyadi

Fundasi-fundasi pembangunan yang sudah tercantum di RPJMD Kabupaten Situbondo, yang bersumber dari visi-misi duet Dadang Wigiarto-Yoyok Mulyadi saat berkampnye di Pilkada Situbondo tahun 2015 silam, dituangkan dalam rencana tahunan, dilaksanakan secara bersama dengan seluruh pemangku kepentingan (stake holder) pembangunan Kabupaten Situbondo.

“Fundasi bangunan Kabupaten Situbondo yang telah dicanangkan Pak Bupati Dadang Wigiarto relatif sudah mapan. Tinggal dilanjutkan bagaimana menata tembok gedungnya, membuat atapnya, dan memasang jendelanya. Sehingga secara artistik nanti terbentuklah pembangunan Kabupaten Situbondo yang di idam-idamkan masyarakat,” ucap mantan Kepala Dinas PUPR Kabupaten Situbondo ini.

Konsep Ekonomi Kebersamaan

Dalam membangun daerah, terang Yoyok, Pemkab Situbondo menerapkan Sistem Ekonomi Kebersamaan, yang dibangun berdasarkan kultur masyarakat Situbondo.

Maksudnya kultur di sini adalah masyarakat Situbondo yang menganut pola patrialisme pada tokoh-tokoh agama panutan seperti kyai dan ulama yang notabene adalah pemimpin pondok pesantren.

Masyarakat Situbondo sangat taat dan patuh dengan imbauan dan titah para tokoh lokal informal yang disegani. Harap maklum, di Situbondo banyak sekali berdiri pondok pesantren.

“Kami melihat patrialisme ini harus diberdayakan dalam rangka mendukung program-program pembangunan ekonomi yang dilaksanakan Pemkab Situbondo,” ujar Yoyok.

Yoyok menunjuk fenomena petani Situbondo yang menerapkan sistem ekonomi kultural. Di mana si petani sekaligus menjadi peternak dan sebagai pembudidaya perikanan. Model ekonomi kultural ini harus diberdayakan semaksimal mungkin dengan sentuhan inovasi, misalnya pemanfaatan limbah-limbahnya agar bisa disubstitusikan antara satu kegiatan dengan kegiatan yang lain.

“Saya ambil contoh, selama ini pemilik sapi tidak memanfaatkan kotoran sapinya. Padahal, kotoran sapi tidak dimanfaatkan itu adalah harta yang terbuang. Ketika mereka diberi fasilitasi agar bisa memanfaatkan limbah kotoran dan limbah kencing cair dari ternak sapi menjadi pupuk penyubur lahan pertanian. Dari sini kemudian muncullah Program Penyuburan Lahan,” jelas Yoyok.

Program Penyuburan Lahan tersebut kini menjadi program andalan dan membanggakan karena tingkat kemanfaatannya sangat dirasakan oleh petani. Sehingga di kemudian hari ini, para petani Situbondo mampu memproduk beras premium 1 kg dengan biaya pokok produksinya hanya Rp 4.500/kg. Jika beras premium produksi petani itu dijual di pasaran dengan harga Rp 15.000/kg, maka si petani memperoleh keuntungan sebesar Rp 10.500/kg.

Selama ini, si petani mendapatkan hasil panen sebanyak 3 ton, 4 ton, bahkan 5 ton dari 1 hektar lahan yang dimilikinya, dan itu sudah bisa disebut istimewa. Maka, dengan program penyuburan lahan yang dilaksanakan secara bersama-sama, saat ini petani bisa meningkatkan produktivitasnya dan mendapatkan hasil panen sebanyak 8-10 ton dari 1 hektar lahannya.

“Sepanjang dilaksanakan bersama-sama, pola pertanian semacam itu bisa meningkatkan produktivitas lahan petani dari semula 3 ton menjadi 8-10 ton dari satu hektar lahan. Selain itu, biaya produksi menjadi mengecil. Harga beras di pasaran pun menjadi bersaing,” beber Yoyok.

Dikatakannya, pasar besar itu membutuhkan kotinyuitas ketersediaan komoditas. Kemudian ada kepastian jumlah yang bisa disediakan apa lagi jika harganya murah.

“Jika kondisi-kondisi itu bisa dipenuhi, maka petani kita telah mampu menciptakan pasar sendiri untuk komoditasnya,” tegas Yoyok.

Namun, Yoyok menggarisbawahi, idealita semacam itu tidak mungkin terwujud jika para petani bergerak secara sendiri-sendiri. Kebersamaan itu bisa ditunjukkan, misalnya, sebagian petani menggarap 25 hektar lahan untuk komoditas padi, sebagian petani lain mengelola komoditas cabai di lahan 25 hektar lainnya.

Konsep ekonomi Kebersamaan yang digagas Pemkab Situbondo ini semata-mata ditujukan agar para petani di perdesaan Situbondo bisa meraih kemakmuran.

“Konsep Ekonomi Kebersamaan ini mucul di saat beberapa lapisan masyarakat tidak menikmati kemakmuran. Karenanya, secara bersama-sama kita garap semua potensi ekonomi di Situbondo agar masyarakat bisa menikmati kemakmuran,” harap Yoyok. (AF)*

banner 300x250

Related posts