World Diabetes Day 2020: Penderita Diabetes Butuh Dukungan ‘Caregiver’

  • Whatsapp
Peran caregiver sangat penting untuk memastikan kepatuhan diabetesi dalam mengonsumsi nutrisi untuk diabetes dan mengikuti pola makan diabetes untuk mencegah risiko komplikasi. (Foto: WWCOMM)

Diabetes adalah salah satu penyakit penyerta (komorbid) yang banyak ditemukan pada pasien COVID-19 tepatnya di peringkat kedua yaitu sebanyak 34,4% kasus di Indonesia. Paling banyak di Indonesia adalah kasus diabetes tipe 2 akibat gaya hidup tidak sehat. Perencanaan manajemen diabetes melitus harus dilakukan secara bersama antara diabetesi dengan keluarga agar bisa mengontrol kadar gula darah.

TRIASNEWS – Diabetes masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia, termasuk di Indonesia. Faktanya, International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas melaporkan, hingga 14 Mei 2020, sebanyak 463 juta orang dewasa di dunia menderita diabetes (diabetesi) dengan prevalensi global mencapai 9,3%.

Adapun Indonesia sendiri menempati urutan ke-7 dari 10 negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi, yakni 10,681,400 orang diabetesi (data IDF tahun 2020) dari 172.244.700 jiwa total penduduk orang dewasa di Indonesia, dengan tingkat prevalensi 6,2%. Artinya, sekitar 1 dari 25 orang Indonesia terdeteksi menderita diabetes.

Namun, kondisi yang membahayakan adalah 50,1% diabetesi tidak terdiagnosis. Ini menjadikan status diabetes sebagai silent killer masih menghantui dunia. Jumlah diabetesi ini diperkirakan meningkat 45% atau setara dengan 629 juta orang pertahun 2045. Bahkan, sebanyak 75% pasien diabetes pada tahun 2020 berusia 20-64 tahun. Singkat kata, dunia belum terbebas dari ancaman dan bahaya diabetes. 

Bertolak dari kenyataan memprihatinkan itu, para stake holder penanganan diabetes di dunia memperingati Hari Diabetes Sedunia (World Diabetes Day/WDD) tanggal 14 November setiap tahun.

Peringatan WDD tahun 2020 ditujukan untuk mempromosikan peran caregiver khususnya keluarga dalam manajemen, perawatan, pencegahan dan pendidikan diabetes, serta meningkatkan kesadaran penduduk dunia akan dampak diabetes.

Di Indonesia sendiri, WDD diperingati salah satunya oleh KALBE Nutritionals, anak perusahaan PT KALBE Farma Tbk., melalui brand Diabetasol, produsen nutrisi khusus untuk diabetesi.

KALBE Nutritionals tak pernah ketinggalan ikut andil memberikan edukasi kepada masyarakat luas tentang bahaya dan ancaman diabetes serta mendukung diabetesi untuk tetap hidup sehat dengan terus memberikan total nutrisi diabetes untuk menjaga gula darah.

Director of Special Needs & Healthy Lifestyle Nutrition KALBE Nutritionals, Tunghadi Indra dan Brand Manager Diabetasol, Yunita Chandrawati (Foto: WWCOMM)

Director of Special Needs & Healthy Lifestyle Nutrition KALBE Nutritionals, Tunghadi Indra, menegaskan komitmen pihaknya untuk memberikan edukasi diabetes secara berkelanjutan tidak hanya di Indonesia, bahkan juga di beberapa negara di Asia, di mana produk Diabetasol juga hadir seperti di Filipina, Malaysia, Sri Lanka, dan Myanmar. Apalagi, lanjut Tunghadi, kondisi diabetesi sangat berisiko tinggi di saat pandemi COVID-19 sekarang ini.

“Dengan menjaga gula darah, dapat membantu menurunkan risiko diabetesi terkena komplikasi COVID-19,” ucap Tunghadi, saat menjadi pembicara dalam acara edukasi diabetes yang diselengarakan secara virtual bertajuk, “Bersama Diabetasol, Sayangi Dia”, Selasa (3 Novermber 2020).

Selain Tunghadi, hadir sebagai narasumber lainnya di kegiatan webinar itu adalah Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD (Ketua Umum Perkumpulan PERKENI), Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE, Executive Board Member, IDF Western Pacific Region (2009-2011 dan 2012-2015), dan Dr. dr. Sony Wibisono, Sp.PD-KEMD, FINASIM (Presiden PB Persadia Terpilih 2020-2023).

Lebih lanjut Tunghadi mengatakan, angka prevalensi diabetes di dunia dan Indonesia yang meningkat, ditambah risiko yang bisa terjadi kepada para diabetesi saat pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa diabetes perlu perhatian khusus dari semua kalangan.

“Diabetes memang tidak bisa disembuhkan, tetapi manajemennya sangat perlu diperhatikan. Pemberian nutrisi yang tepat untuk diabetes adalah salah satu kiatnya. Selain itu dukungan dari support system di sekitar diabetesi juga sangat dibutuhkan di mana peran caregiver sangat penting untuk memastikan kepatuhan diabetesi dalam mengonsumsi nutrisi untuk diabetes dan mengikuti pola makan diabetes untuk mencegah risiko komplikasi. ,” ungkap Tunghadi.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD, KEMD, FACE, menyatakan, berdasarkan data IDF, sebanyak 90% diabetesi adalah pasien type 2 diabetes mellitus (T2DM). Kenaikan jumlah diabetesi T2DM ini didorong oleh kondisi saling mempengaruhi yang kompleks antara pertumbuhan sosio-ekonomi, demografis, lingkungan, dan faktor genetis. Kontributor utama lainnya termasuk arus urbanisasi, populasi penduduk yang menua, berkurangnya aktivitas fisik di tengah masyarakat urban, dan meningkatnya obesitas serta kelebihan berat badan.

Executive Committee Member IDF Western Pacific Region (2009-2011 & 2012-2015), Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD, KEMD, FACE: (Foto: WWCOMM)

Menurut Prof. Sidartawan, tingginya jumlah diabetesi membuat pengendalian diabetes membutuhkan perhatian semua orang dan juga kebijakan nasional dengan pendekatan terintegrasi. Kehadiran komunitas masyarakat sadar diabetes dan keluarga peduli diabetes dibutuhkan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan masyarakat dalam mengendalikan diabetes.

“Keluarga merupakan perantara efektif dan mudah untuk melaksanakan upaya kesehatan. Upaya yang dapat dilakukan keluarga diabetesi antara lain melakukan pengaturan pola makan sehat dan gizi seimbang, perencanaan olahraga, pengaturan obat, dan edukasi. Hasil penelitian terkait dukungan keluarga yang positif, mengarah pada kontrol gula darah yang lebih baik (42,2% memiliki gula darah yang lebih terkontrol),” papar Sidartawan.

Dalam paparannya, Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD  memperingatkan bahwa menurut data IDF, Indonesia berstatus waspada diabetes karena menempati urutan ke-7 dari 10 negara dengan jumlah pasien diabetes tertinggi, yakni 10,681,400 orang per tahun 2020 dengan prevalensi 6,2%.

Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD (Foto: WWCOMM)

Angka ini diperkirakan meningkat jadi 16,7 juta pasien pada  tahun 2045. Dengan data tahun ini, 1 dari 25 penduduk Indonesia atau 10% dari penduduk Indonesia mengalami diabetes.

“Yang paling banyak di Indonesia adalah kasus diabetes tipe 2 yang disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat. Melihat angka yang sangat besar, artinya setiap orang memiliki kerabat, teman, atau bahkan keluarga yang mengalami penyakit diabetes,” ungkap Ketut Suastika. 

Mengutip  Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, Prof. Suastika menyebut, angka prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 10.9% yang diprediksi juga akan terus meningkat. Kondisi ini pastinya dapat mempersulit proses pengendalian dan pengelolaan diabetes.

“Siapa pun harus aware dengan kondisi kita. Harus ingat bahwa gejala klasik diabetes yang bisa didiagnosis dari awal adalah banyak minum, banyak kencing, juga berat badan yang turun drastis. Bagi diabetesi, penting untuk mengecek kadar gula darah secara rutin dan melakukan pencegahan, terlebih saat pandemi COVID-19 sekarang ini. Diabetes adalah salah satu komorbid atau penyakit penyerta yang banyak ditemukan pada pasien virus COVID-19 tepatnya di peringkat kedua yaitu sebanyak 34,4% kasus di Indonesia,” imbuh Ketut. 

Narasumber lainnya, Dr. dr. Sony Wibisono, Sp.PD-KEMD, FINASIM, menerangkan, sejak didirikan 48 tahun silam, PERSADIA telah secara proaktif memberikan edukasi pada masyarakat mengenai diabetes, baik untuk diabetesi maupun keluarganya.

Menurut Sony Wibisono, perencanaan manajemen diabetes harus dibicarakan antara diabetesi dan keluarganya. Diabetesi harus menerima perawatan medis secara terkoordinasi dan terintegrasi dari tim kesehatan, sehingga keluarga perlu menyadari pentingnya keikutsertaan dalam perawatan diabetesi mellitus agar kadar gula darah dapat terkontrol dengan baik. 

Presiden PB PERSADIA Terpilih periode 2020-2022, Dr. dr. Sony Wibisono, Sp.PD-KEMD, FINASIM (Foto: WWCOMM)

“Perencanaan pengelolaan diabetes melitus harus dilakukan secara bersama antara pasien dengan keluarga agar kadar gula darah dapat terkontrol. Diabetesi memerlukan diet gizi khusus untuk secara efektif mengatur kadar gula darah mereka serta memenuhi kebutuhan gizi mereka,” jelas Sony.

Bersama Diabetasol, Sayangi Dia

Selama ini, Diabetasol telah secara aktif melakukan edukasi penanganan diabetes bagi diabetesi dan keluarganya sebagai caregiver yang tidak hanya dilakukan pada momen WDD. Edukasi yang dilakukan Diabetasol juga tidak sebatas offline berupa edukasi di rumah sakit, tetapi juga dalam bentuk online kepada masyarakat.

Contohnya kuliah Whatsapp yang diadakan rutin setiap bulan dan talk show secara live. Selain itu, Diabetasol juga memberikan layanan konsultasi dengan dokter & nutritionist, serta menyediakan informasi mengenai cara mengatasi diabetes dan menghindari risiko komplikasi. Semuanya bisa diakses melalui websitehttp://diabetasol.com/id

Diabetasol apresiasi caregiver diabetesi (Foto: WWCOMM)

Dalam rangka WDD 2020, Diabetasol kembali mengadakan serangkaian aktivitas dengan tema kampanye “Bersama Diabetasol, Sayangi Dia”. Kampanye ini mengandung ajakan agar semua pihak mulai dari tenaga medis, keluarga, sahabat, hingga kerabat keluarag berperan aktif dalam memberikan dukungan pada diabetesi.

Pada hari-H WDD 2020, tepatnya 14 November 2020, Diabetasol akan memberikan donasi bagi tenaga medis, berupa APD dan produk nutrisi khusus diabetes untuk perlindungan terhadap diabetesi selama pandemi COVID-19, dengan donasi kurang lebih senilai Rp 500 juta.

Tema “Bersama Diabetasol, Sayangi Dia” yang diangkat untuk peringatan WDD 2020 merupakan wujud apresiasi dan didedikasikan bagi para caregiver yang sudah memberikan kontribusi positif bagi diabetesi di Indonesia. (TRIASNEWS/Anis Fuadi)

banner 300x250

Related posts