Tim Tabur Kejaksaan Agung Sukses Tangkap 1 Buronan dari Malaysia

  • Whatsapp
Atto Sakmiwata Sampetoding, terpidana korupsi yang ditangkap Tim Tabur Kejaksaan RI di malaysia

Triasnews — Tim Tabur ( Tangkap Buronan) bidang Intelijen Kejaksaan Agung berhasil menangkap Atto Sakmiwata Sampetoding, terpidana yang menjadi buronan sejak tahun 2014 silam.

Terpidana yang menjabat sebagai Managing Director PT. Kolaka Mining International itu ditangkap Tim Tabur Kejaksaan Agung di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia, pada Rabu (20 November 2019) sekira pukul 21.00 waktu setempat, sesaat setelah ditolak masuk ke wilayah Malaysia oleh otoritas yang berwenang.

Read More

Tim intelijen Kejaksaan Agung bersama buronan Atto Sakmiwata Sampetoding di dalam pesawat menuju Indonesia

“Berkat koordinasi yang baik antara Kejaksaan RI, Atase Imigrasi, Atase Kepolisian KBRI Kuala Lumpur, di satu pihak, dan Otoritas yang berwenang di Malaysia di lain pihak, pria berusia 60 tahun itu dapat diserahkan kepada Tim Kejaksaan Agung untuk dipulangkan ke Indonesia,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung, Dr. Mukri.

Mukri menerangkan, terpidana tiba di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng Jakarta sekira pukul 08.30 wib dengan pengawalan Tim Intelijen Kejaksaan Agung dan langsung dibawa ke Rutan Kejaksaan Agung untuk menjalani proses selanjutnya.

Penangkapan terpidana, lanjur Mukri, merupakan tindak lanjut atas putusan Kasasi Mahkamah Agung RI. Nomor: 199K/Pid.Sus/2014 tanggal 26 November 2014, di mana yang bersangkutan dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana korupsi dalam jual beli Nikel Kadar Rendah bentuk mentah sebanyak 222.000 mt dengan harga Rp 78 miliar, antara Pemkab Kolaka dan PT. Kolaka Mining Internasional yang merugikan keuangan negara lebih dari Rp 24 milyar. .

Atto, selaku Managing Director PT Kolaka Mining Internasional, perusahaan pengekspor nikel ke China, terjerat kasus korupsi yang melibatkan Bupati Kolaka, Buhari Matta.

Pada 2013, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kendari, Sulawesi Tenggara, menetapkan Bupati Kolaka, Buhari Matta dan Atto Sakmiwata Sampetoding sebagai tersangka tindak pidana korupsi yang telah merugikan negara sebesar Rp 24 milyar dalam perkara jual beli nikel kadar rendah. Namun, Atto hilang bagai ditelan bumi saat hendak dieksekusi pada 2014.

Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi Kendari pada tahun 2014, memvonishukuman pidana penjara selama 5 tahun dan pidana denda sebesar Rp 500 juta serta dibebani membayar uang pengganti sebanyak Rp 24,1 miliar.

“Atas perbuatan tersebut, ia dihukum pidana penjara selama 5 (lima) tahun dan pidana denda sebesar Rp 500 juta serta dibebani membayar uang pengganti sebanyak Rp 24,1 Milyar,” lanjut Mukri.

Penangkapan terhadap Atto Sakmiwata Sampetoding merupakan keberhasilan program Tangkap Buronan (Tabur 32.1) yang telah menangkap dan mengamankan pelaku kejahatan yang terkategorikan sebagai Tersangka, Terdakwa, dan Terpidana.

“Dari Januari 2019 sampai 21 November 2019, Tim Tabur telah berhasil menangkap 153 orang buronan. Jika dihitung sejak program Tabur 32.1 diluncurkan oleh Kejaksaan RI pada tahun 2018, maka buronan yang telah ditangkap oleh Kejaksaan RI mencapai 360 orang,” imbuh Mukri.

Sebagai salah satu indikator keberhasilan kinerja bidang Intelijen bagi jajaran Kejaksaan baik di Pusat dan di Daerah, ditetapkan target bagi 32 Kejaksaan Tinggi (Kejati) yang ada di seluruh Indonesia yaitu minimal 1 (satu) kegiatan penangkapan terhadap buronan kejahatan untuk setiap triwulan.

“Program Tabur 32.1 adalah wujud komitmen institusi Kejaksaan RI dalam menjawab ekspektasi masyarakat akan kepastian hukum dan akuntabilitas dalam penanganan perkara pidana,” cetus Mukri.

Kejaksaan RI menyampaikan terima kasih atas dukungan dan kerja sama yang baik antara Kejaksaan, Ditjen Imigrasi dan KBRI Kuala Lumpur dalam upaya pemulangan buronan Atto Sakmiwata Sampetoding.

“Hal ini sebagai wujud sinergi dalam penegakan hukum, dalam menyampaikan pesan bahwa tidak ada tempat yang aman bagi pelaku kejahatan.” (ETD/AF)*

banner 300x250

Related posts