Potret Miris Perjuangan Anak Negeri demi Bisa Bersekolah

  • Whatsapp
Perjuangan anak-anak Indonesia untuk bersekolah

Ini sekadar gambaran faktual, betapa masih memprihatinkan kondisi generasi muda Indonesia dewasa ini. Untuk menuju lokasi sekolah saja, anak-anak ini mesti mengalami perjuangan yang penuh risiko.

TRIASnews — Semangat menggebu-gebu anak-anak Indonesia untuk menimba ilmu pendidikan dari sekolah formal ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kemudahan. Sungguh menyesakkan dada, banyak naka-anak yang harus berjuang mati-matian untuk sampai ke sekolah.

Read More

Sejumlah faktor menjadi penghambat, antara lain jauhnya jarak dari rumah ke sekolah dan medan jalan yang sulit untuk dilintasi kaki-kaki mungil itu. Salah satu contohnya adalah ada seorang gadis cilik yang rela melewati gunung setiap hari di kota Barabai, Kalimantan Selatan. Masih banyak lagi perjuangan anak-anak tangguh yang hanya ingin pergi ke sekolah walaupun keadaan tak memungkinkan.

1. Jibay, gadis cilik berjalan kaki sejauh 8 Km

Sulit membayangkan beratnya perjuangan Jibay untuk sampai ke sekolahnya. Karena tak ada kendaraan umum, ia harus menempuh perjalanan kaki dari rumah ke sekolah sepanjang 8 Km.

Jibay, gadis cilik berjalan kaki sejauh 8 Km ke sekolah

Gadis cilik berumur 9 tahun yang bernama Jibay ini rela berjalan naik turun gunung demi sampai ke sekolah. Jalanan yang licin, tanjakan curam, kubangan lumpur dan jurang yang berada di sisi kiri dan kanan jalan tak menyurutkan apalagi menghentikan langkah Jibay untuk mengenyam pendidikan.

Sebenarnya ia juga tak mau begini setiap harinya jika tidak ‘terpaksa’. Sekolah terdekat dari rumahnya adalah memang di tempat ia belajar sekarang yaitu SDN Haruyan Dayak 2 Kampung Cabai Desa Patikalain.

Jibay saat mengikuti pelajaran di kelas

Jibay yang berjalan kaki ke sekolah sejauh itu tak pernah membawa uang saku dan hanya ditemani oleh sebotol air putih. Ia tak pernah mengeluh dengan segala keterbatasan yang ada karena yang ia pikirkan adalah bagaimana cara untuk sampai ke sekolah sebelum lonceng berbunyi.

2. Anak-anak Desa Sumua Bana, Sumbar, lewati jembatan rusak

Anak-anak Desa Sumua Bana, Padang, lewati jembatan rusak

Jembatan yang menghubungkan Desa Sumua Bana dan Kota Padang, Sumatera Barat, ini sudah rusak sejak tahun 2008. Karena itu adalah akses satu-satunya daripada harus memutar yang jaraknya cukup jauh, anak-anak ini mempertaruhkan nyawa setiap harinya. Perjuangan mereka diabadikan oleh media Inggris The Sun dengan tajuk ‘Is this the most dangerous school run in the world?

3. Siswa SD di Bone Sulsel menyeberang jembatan rusak

Sangat mengkhawatirkan kondisi siswa-siswa SD Inpres, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, yang setiap berangkat ke sekolah harus menyeberangi sungai, menapaki jembatan yang rusak. Jalur jembatan itu dipilih mereka karena itulah jalan terdekat menuju ke sekolah mereka.

Awalnya jembatan ini tidak mengalami kerusakan, tetapi banjir bandang datang sehingga alat penyeberangan ini menjadi roboh. Karena tekad belajar mereka lebih kuat daripada ketakutan, siswa-siswi SD ini melewati jembatan bambu tersebut dengan sangat hati-hati. Mereka berjalan seakan-akan tak peduli akan resiko yang mereka hadapi.

Para siswa yang harus meniti jembatan rusak

Terpeleset dari jembatan bukan hal yang baru lagi. Salah satu korbannya adalah Sri. Saat menyeberang, pegangannya licin dan membuatnya tak bisa menahan keseimbangan. Beruntung, gadis cilik itu tidak langusng jatuh ke sungai, melainkan tersangkut di pohon.

4. Murid SD Negeri 1 Campoan Situbondo menyeberang sungai

Menyeberangi sungai berarus deras harus dilewati oleh siswa-siswi SD Negeri 1 Campoan, Situbondo, Jawa Timur. Mereka merelakan seragamnya basah kuyup yang terpenting bisa sampai ke sekolah tepat waktu. Selain itu, para jagoan kecil ini menggunakan sandal jepit agar tak menyusahkan langkah kaki mereka untuk berjalan di sungai.

Perjuangan murid dan guru SD Negeri 1 Campoan Situbondo untuk menuju ke sekolah

Jalan yang melalui sungai ini memang benar-benar satu-satunya pilihan terbaik menuju sekolah.

Tak ada akses jalan darat untuk menuju ke sekolah. Warga telah meminta kepada pemerintah setempat untuk memperhatikan secara khusus kesusahan warga yang paling darurat ini. Tetapi sampai sekarang masih belum ada tanggapan yang berarti. 

Ini tidak dialami oleh muridnya saja, tapi guru-gurunya juga. Mereka saling bahu membahu untuk bisa sampai ke tepi sungai. Bisa dikatakan jika mereka seakan tak peduli dengan nyawanya yang penting sang murid bisa menuntut ilmu dan para pengajar bisa mendidik muridnya di sekolah.

5. Anak-anak sekolah di Singkil Utara, Aceh, lewati jembatan rusak

Jembatan kayu di Singkil Utara ini sudah roboh dari setahun sebelumnya. Namun karena belum diperbaiki dan merupakan satu-satunya jalur yang bisa ditempuh, anak-anak sekolah di Aceh ini terpaksa melewati jembatan kayu yang rusak itu.

Anak-anak sekolah di Singkil Utara, Aceh, lewati jembatan rusak

6. Siswa SD di Nganjuk mendaki bukit dan melintasi hutan

Perjalanan ke sekolah yang dilakukan oleh murid SDN Ngepung I, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, memang hanya 5 km. Tetapi jangan salah, akses jalan yang mereka lalui tidaklah mudah. Beberapa tahap medan harus mereka tempuh, mulai berjalan kaki, menyeberangi sungai, melewati hutan, hingga mendaki bukit kapur yang terjal.

Siswa SD di Nganjuk mendaki bukit dan melintasi hutan

Belum lagi jika sedang musim hujan, jalanan yang mereka lintasi menjadi lebih sulit dan air sungai yang arusnya lebih deras dari biasanya. Perjalanan itu mereka tempuh sekitar 1,5 jam yang kabarnya itu adalah waktu minimal mereka.

Kondisi yang mengenaskan ini tak menyurutkan semangat anak-anak tersebut untuk bersekolah, meskipun mereka harus menguras tenaga dan rela untuk bertaruh nyawa.

7. Anak-anak di Desa Sangiang Tanjung, Kalang Anyar, Lebak, Banten lewati jembatan miring

Anak-anak di Desa Sangiang Tanjung, Kalang Anyar, Lebak, Banten lewati jembatan miring

Jembatan yang rusak akibat diterjang banjir tidak menyurutkan niat anak-anak Desa Sanghiang Tanjung, Banten. Setiap hari, mereka harus uji nyali dengan melintasi jembatan miring ini. Kepleset sedikit, bisa langsung nyebur ke sungai Ciberang. Perjuangan mereka yang viral di media sosial, akhirnya membuat sebuah perusahaan baja tergerak untuk membangun jembatan baru untuk mereka.

8. Anak-anak di Desa Praibakul, Sumba Timur, NTT, mendaki bukit terjal

Anak-anak di Desa Praibakul, Sumba Timur, NTT, mendaki bukit terjal

FOTO: Anak-anak di Desa Praibakul, Sumba Timur, NTT, mendaki bukit terjal Sekolah mereka berada di balik bukit sana. Sebelum menyeberangi sungai, setiap harinya anak-anak di Desa Praibakul, Sumba Timur ini harus mendaki bukit terjal yang bisa longsor sewaktu-waktu. (AF)*

banner 300x250

Related posts