Penolakan Alumni pada Ketua IKA Unpad Mengemuka

  • Whatsapp

TRIASNEWS — Penolakan alumni terhadap kinerja panitia Musyawarah Besar (Mubes) X Ikatan Keluarga Alumni Universitas Padjadjaran (IKA Unpad) 2020 beserta produk yang dihasilkannya masih mengemuka dan terus menguat.

Seperti diketahui, di mata sementara alumni Unpad, perhelatan Mubes X IKA Unpad, yang berlangsung di Bandung pada 11- 13 September 2020, telah menciptakan anomali demokrasi dalam sejarah kontestasi ketua IKA UNPAD di era reformasi.

Read More

Pasalnya, penyelenggaraan Pemilu Raya untuk pemilihan ketua IKA UNPAD yang sebelumnya dilakukan secara demokratis dengan memberikan hak kepada seluruh alumni untuk memilih, justru dalam Mubes kali ini, panitia malah mencabut hak suara seluruh alumni.

Pemilihan dilakukan hanya oleh segelintir orang yang beratribut Komisariat Fakultas (Komfak) dan komisariat Daerah (Komda) IKA Unpad yang selama 4 (empat) tahun ke belakang tidak pernah dapat dijadikan representasi alumni.

Salah seorang alumni Unpad, Heru Firdausi Syarif, mengungkapkan kekecewaannya kepada TRIASNEWS. Menurut Heru, panitia Mubes X IKA Unpad sudah terang benderang mempertontonkan, dan sulit dibantah realitasnya, upaya memanfaatkan situasi pandemi Covid-19 untuk memperlancar pemilihan ketua IKA Unpad dengan mekanisme perwakilan.

Ia meradang. Ia sangat berang lantaran panitia Mubes X IKA Unpad telah merampas hak ratusan ribu alumni Unpad yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri, serta memaksakan sistem perwakilan dalam proses pemilihan ketua IKA Unpad.

Padahal, sejak awal alumni Unpad menghendaki agar ketua IKA Unpad dipilih secara langsung, menerapkan prinsip one man one vote, satu orang satu suara.

Heru Firdausi Syarif, alumnus FISIP Unpad 1983

Mekanisme perwakilan itu didukung beberapa pihak. Heru juga sangat menyayangkan, ketua panitia Mubes IKA Unpad yang berlatar belakang dosen Unpad dan seharusnya netral justru mendukung mekanisme tersebut.

“Jadi tidak salah jika kemudian ada tudingan bahwa mumpung ada Covid-19 dikondisikan saja lah. Suara dari alumni tak perlu didengarkan. Saya menangkap jelas pandemi Covid-19 dijadikan sebagai alibi untuk menggolkan hidden agenda, yakni memberlakukan mekanisme perwakilan dalam pemilihan ketua IKA Unpad,” ujar alumnus FISIP Unpad Angkatan 1983 itu.

Heru mengkritik sejumlah fakta tidak logis di balik Mubes X IKA Unpad. Atas dasar apa panitia Mubes mengklaim bahwa mekanisme perwakilan lebih memungkinkan diterapkan ketimbang pemilihan langsung oleh alumni untuk memilih ketua IKA Unpad? Lagi pula, apakah yang namanya Komfak sudah representatif, benar-benar mewakili alumni fakultas bersangkutan? Begitujuga halnya yang namanya Komda, apakah memang mewakili seluruh alumni yang berada di daerah tersebut?

“Bagaimana mau ngapungkeun Unpad jika untuk menggelar pemilihan dengan mekanisme e-voting saja tidak mampu? Mau ngapung ke mana padahal sudah di era milenial begini. Padahal banyak alumni Unpad yang bergerak di bidang IT yang tidak perlu dibayar untuk menyiapkan perangkat e-voting itu.” lanjut Heru.

Masih kata Kang Uu, sapaan akrabnya, panitia Mubes telah membuat dan menetapkan sendiri aturan mengenai tata cara pemilihan. Dalam AD/ART disebutkan dengan tegas bahwa sistem pemilihan menggunakan one man one vote (OMOV) dan tidak dapat diwakilkan.

“Menjadi aneh dan tidak masuk nalar, ketika panitia menggunakan sistem perwakilan di saat kontestasi sudah di ujung pemilihan. Di mana logikanya, aturan main yang sudah ditetapkan dengan menggunakan AD/ART tahun 2016 diubah dengan aturan main dalam AD/ART 2020 yang baru disahkan dalam Mubes X. Padahal Mubes X tahun 2020 dilaksanakan berdasarkan ketentuan AD/ART 2016,” cetus Kang Uu, yang sehari-hari menjabat Ketua Umum Pajero Sport Family Indonesia.

Secara terang-benderang, lanjut Kang Uu, panitia Mubes IKA Unpad telah menyandera demokrasi dalam Pemilu IKA Unpad. Jauh dari masuk akal dan sangat mempermalukan civitas akademik Unpad yang menjunjung tinggi demokrasi sebagai manifestasi konkret dari Sila ke-4 Pancasila.

Atas nama alumni Unpad, Kang Uu menyatakan sangat kecewa atas praktik pembajakan dan pengerdilan demokrasi, penyingkiran hak suara alumni Unpad.

Heru mengaku tidak berkepentingan pada siapa yang menang atau kalah. Siapapun pemenang dan terpilih sebagai Ketua IKA Unpad adalah yang terbaik dan sepatutnya diakui. Namun dengan catatan, memang menang dan dipilih berdasarkan sebuah mekanisme yang demokratis, yang menghargai kedaulatan suara alumni.

Kang Heru menggarisbawahi, yang alumni Unpad kehendaki adalah sebuah pemilihan yang sopan, jujur, transparan, demokratis. Alumni berontak karena ingin melampaui ke hal yang lebih substansial yaitu pembelaan terhadap kehidupan berdemokrasi.

Dalam persepsi Heru, panitia Mubes telah secara terang-benderang merekayasa proses pemilihan ketua IKA Unpad untuk memenangkan salah satu kandidat, dengan pandemi Covid-19 sebagai justifikasi.

Baginya, panitia Mubes terlalu mengada-ada dengan memakai pandemi Covid sebagai alibi dan pembenaran diberlakukannya pemilihan ketua IKA Unpad melalui sistem perwakilan.

“Menanggapi tindakan panitia Mubes X Pemilu IKA Unpad yang telah merampas hak suara alumni Unpad dalam proses pemilihan ketua IKA Unpad yang cacat demokrasi, kami dengan ini menolak mengakui proses Mubes X berikut produknya yakni Ketua IKA Unpad terpilih dalam proses voting yang diikuti hanya oleh 36 orang mengatasnamakan Komfak dan Komda IKA Unpad,” tegas anggota Dewan Penasehat Ikatan Alumni Hubungan Internasional (IKAHI) Unpad ini.

Heru berseloroh, bagaimana mau “ngapungkeun” UNPAD sebagai World Class University jika Mubes IKA Unpad sendiri telah mengebiri dan mengamputasi kedaulatan suara para alumni Unpad.

Keprihatinan Alumni

Ungkapan keprihatinan dan kekecewaan alumni Unpad pada Mubes X IKA Unpad telah mengemuka sehari pasca-Mubes IKA Unpad.

Sebanyak kurang lebih 50 papan bunga bertuliskan “TURUT BERDUKA CITA ATAS MATINYA DEMOKRASI IKA UNPAD” terpasang di sepanjang gerbang Kampus Universitas Padjadjaran (UNPAD) Jalan Dipati Ukur, Kota Bandung.

Papan-papan bunga tersebut berasal dari alumni UNPAD lintas fakultas. Kalimat yang tertera di papan-papan bunga itu relatif seragam, menyuratkan kekecewaan mendalam terhadap dikebirinya suara alumni dalam proses pemilihan ketua IKA Unpad.

Untuk diketahui, Mubes X IKA Unpad yang diselenggarakan bersamaan dengan ulang tahun ke-63 Unpad itu dihadiri 17 Komfak dan 19 Komda. Dalam pemungutan suara yang diikuti 36 suara Komfak dan Komda untuk memilih ketua umum IKA Unpad, Irawati Hermawan memperoleh 21 suara, Hadiyanto (11 suara), Tatan (2 suara) dan Tasdiyanto (1 suara), abstain (1 suara). TRIASNEWS/AF

banner 300x250

Related posts