Negara Islam Bakal Gantikan Dolar AS dengan Emas Sebagai Alat Tukar

  • Whatsapp
Koin emas bertulisan Arab

TRIASNews –  Tiga negara Islam: Malaysia, Turki, Iran, dan Qatar tengah mempertimbangkan untuk membuka jalur perdagangan sendiri dengan menggunakan  emas sebagai alat pembayaran internasional. Konsep yang akan dipakai adalah sistem barter/pertukaran.

Pemimpin negara Islam peserta Islamic Summit di Kuala Lumpur Malaysia

Wacana tersebut mengemuka dalam Islamic Summit yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, akhir pekan lalu. Penggunaan emas ini bisa menjadi senjata negara Muslim untuk bertahan dari embargo ekonomi yang dilancarkan negara barat.

Koin emas era Dinasti Umayyah

Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, adalah tokoh yang paling antusias dengan konsep alart bayar emas ini. Mahathir menjelaskan perdagangan akan menggunakan skema barter sebagai salah satu langkah lindung nilai atau hedging.

Mahathir mengungkapkan alasan mengapa sistem perdagangan semacam ini patut ditempuh. Menurutnya, negara-negara Islam harus mandiri dalam menghadapi ancaman perekonomian di masa depan.

“Keputusan sepihak dengan menjatuhkan sanksi. Hal itu dapat berlaku pula pada kita,” kata Mahatir, Senin (23/12/2019), menyinggung nasib yang Qatar yang diembargo oleh sejumlah negara Arab sekutu AS.

Koin Emas, Warisan Peradaban Islam

Sekadar informasi, negara-negara Arab yang bersekutu dengan AS yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir melakukan pemutusan hubungan diplomatik dan hubungan dagang dengan Qatar sejak dua tahun lalu. Qatar dituduh mendukung kegiatan terorisme.

Kemudian Iran menjadi negara berikutnya yang diberikan sanksi oleh AS.

Mahathir Mohammad memuji Iran dan Qatar karena berhasil bertahan dalam embargo ekonomi.

“Saya menyarankan agar kita menimbang kembali gagasan perdagangan menggunakan dinar emas dan perdagangan sistem barter di antara kita,” ujar Mahathir, merujuk pada koin emas abad pertengahan Islam. .

Dia mengaku serius untuk menjalankan misi perdagangan ini dan bisa segera menemukan mekanisme untuk diterapkan dalam waktu cepat.

Pemimpin negara Islam peserta Islamic Summit di Kuala Lumpur Malaysia

Pada akhir pertemuan Islamic Summit di Malaysia, Mahathir menegaskan betapa penting bagi dunia Muslim untuk mandiri dalam menghadapi ancaman di masa depan.

Kuala Lumpur Summit ini dikritik keras oleh Arab Saudi karena dinilai berseberangan dengan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang berbasis di Saudi.

Selain membahas skema perdagangan baru, Kuala Lumpur Summit juga membahas tentang masalah besar yang terjadi pada umat Islam seperti Palestina, Kashmir dan Muslim Rohingya di Myanmar hingga Uighur di Xinjiang. (AF)*

banner 300x250

Related posts