Mubes IKA UNPAD Kebiri Suara Alumni, Azoo dan FKR Mundur dari Kontestasi

  • Whatsapp

TRIASNEWS, BANDUNG — Panitia Musyawarah Besar (Mubes) Ikatan Keluarga Alumni Universitas Padjadjaran (IKA UNPAD) X telah membajak dan mengerdilkan demokrasi, serta mengebiri dan menyingkirkan hak suara seluruh alumni Universitas Padjadjaran, dengan memaksakan pemilihan ketua IKA UNPAD dengan sistem perwakilan.

Perhelatan Mubes X IKA UNPAD, yang berlangsung di Bandung pada 11- 13 September 2020, telah menciptakan anomali demorasi dalam sejarah kontestasi ketua IKA UNPAD di era reformasi.

Read More

Betapa tidak, panitia Mubes IKA Unpad 2020 telah memberi contoh yang tidak baik di alam demokrasi. Penyelenggaraan Pemilu Raya untuk pemilihan ketua IKA UNPAD yang sebelumnya dilakukan secara demokratis dengan memberikan hak kepada seluruh alumni untuk memilih, justru dalam Mubes kali ini, panitia malah mencabut hak suara seluruh alumni untuk memilih.

Pemilihan dilakukan hanya oleh segelintir orang yang berlabel Komisariat Fakultas (Komfak) dan komisariat Daerah (Komda) yang selama 4 (empat) tahun ke belakang tidak pernah dapat dijadikan representasi alumni.

Mengkritisi sikap Panitia Mubes, Tim Pemenangan Calon Ketua IKA Unpad Nomor Urut 3, Dr. Ary Zulfikar, SH, MH (Kang Azoo) menegaskan kekecewaan sangat besar atas praktik pembajakan dan pengerdilan demokrasi, serta penyingkiran hak suara seluruh alumni Universitas Padjadjaran oleh Panitia Mubes IKA UNPAD.

Tim Pemenangan Kang Azoo menggarisbawahi, pihaknya menghendaki sebuah pemilihan yang sopan, jujur, transparan, demokratis. Bukan persoalan menang-kalah.

“Hingga detik ini, kami akan berpegang teguh pada prinsip one man one vote, melibatkan partisipasi seluruh alumni, bukan hanya perwakilan segelintir alumni yang berlabel komda dan komfak.”

“Di saat para alumni sudah tergerak membangun kecintaan kepada UNPAD, dengan mudahnya dicabut haknya oleh panitia Mubes,” demikian rilis dari Tim Pemenangan Kang Azoo, yang diterima TRIASNEWS, Minggu (13/9/2020).

Mengingat Panitia Mubes Pemilu IKA Unpad telah merampas hak alumni dalam proses pemilihan, maka Kang Azoo menyatakan mundur dari kontestasi Pemilu Raya sejak diputuskan oleh komfak/komda dalam sidang pleno pada pukul 11.54, tanggal 13 September 2020 karena telah memutuskan sistem perwakilan yang merampas hak suara alumni.

Sikap serupa ditempuh kandidat lain, Ferry Kurnia Rizkyansyah (FKR). Alumnus FISIP UNPAD angkatan 1992 itu menyatakan mengundurkan diri sebagai calon Ketua IKA UNPAD periode 2020-2024.

Dikutip dari jernih.co, Ketua Umum Keluarga Alumni Ilmu Pemerintahan Universitas Padjadjaran (KA IP-UNPAD), Ervik Ari Susanto, menjelaskan bahwa keputusan FKR mundur dari kontestasi ketua IKA UNPAD karena merasa tidak nyaman dengan mekanisme pemilihan sistem perwakilan.

“Hal ini karena Ferry merasa tidak nyaman dengan mekanisme pemilihan sistem perwakilan. Namun sebagai pejuang demokrasi, Ferry Kurnia tetap menghormati keputusan yang telah diambil melalui voting peserta Mubes, yakni memilih ketua Ika Unpad dengan sistem perwakilan,” kata Ervik.

Tim Kang Azoo menilai, panitia Mubes telah memainkan bandul yang selalu berayun antara konservatisme dan anti demokrasi. Padahal, sejatinya instrumen demokrasi adalah partisipasi langsung dan mengakomodir suara tiap individu. Sejarah telah mencatat bahwa pembajakan demokrasi adalah sebuah pelanggaran serius terhadap humaniora. Bahkan karena tatanan demokrasi pula, ilmu pengetahuan berkembang begitu pesatnya.

“Keikutsertaan Kang Azoo dalam Pemilu Raya IKA Unpad didasarkan pada Surat Keputusan Panitia Mubes sendiri pada tanggal 20 Februari 2020 (SK No. 006/MUBES/IKA-UNPAD/II/2020), di mana secara jelas berdasarkan Pasal 2 menyatakan bahwa sistem pemilihan menggunakan one man one vote (OMOV) dan tidak dapat diwakilkan. Sehingga jadi aneh, sekarang panitia menggunakan sistem perwakilan saat kontestasi sudah di ujung pemilihan.”

Panitia Mubes IKA Unpad telah menutup mata atau bahkan tidak memahami apa itu demokrasi dengan tetap saja menyandera demokrasi dalam Pemilu IKA Unpad.

Kekeliruan pertama: secara arbitrer panitia menginisiasi metode pemilihan dengan perwakilan komisariat daerah (komda) dan komisariat fakultas (komfak).

Kekeliruan kedua, membajak, lalu menyempitkan lagi demokrasi dengan membuat voting untuk memilih siapakah yang mempunyai hak suara dari delegasi yang hadir: kelima perwakilan komda dan komfak, atau satu hak suara dari kelima perwakilan komda dan komfak yang hadir.

Sodoran metode itu justru menjadikan Panitia Mubes IKA Unpad semakin konservatif. Jauh dari masuk akal dan memalukan bagi civitas akademik yang menjunjung tinggi demokrasi sebagai presentasi konkret dalam sila ke-V Pancasila.

“Kami dari Tim Pemenangan Calon Ketua IKA Unpad Nomor Urut 3, Dr. Ary Zulfikar, S.H., M.H sangat kecewa dengan tindak-tanduk Panitia Mubes IKA Unpad 2020 sebab sejak awal kami menghendaki agar Pemilu IKA Unpad dilakukan secara langsung, one man one vote, satu orang satu suara secara keseluruhan. Semua alumni Unpad memiliki suara. Bukan diwakilkan pada komda dan komfak, apalagi oleh panitia dikerdilkan lagi,” tulis rilis tersebut.

Panitia Mubes IKA Unpad, di mata Tim Pemenangan Kang Azoo, telah men-setting sebuah simulakra atau hiper-realitas; menciptakan satu kondisi yang di dalamnya kepalsuan berbaur dengan keaslian; fakta bersimpang siur dengan rekayasa; dusta bersenyawa dengan kepalsuan sehingga menenggelamkan kebenaran demokrasi dalam liang terdalam.

Ini sebuah ironi nyata yang pasti telah dicatat oleh sejarah bahwa tidak ada demokrasi dalam Mubes X dan Pemilu IKA Unpad 2020. (Triasnews/AF)

banner 300x250

Related posts