Memeluk Habib Rizieq di Mekah (Bagian 2)

  • Whatsapp
Setiyardi Budiono bersama Habib Rizieq Shihab di Kota Mekah (Dok. Pribadi)
Setiyardi Budiono, seorang wartawan senior (kini menjadi pemilik bisnis travel haji dan umroh terbesar di Provinsi Lampung) mengisahkan pengalamannya bersua dengan Imam Besar Habib Rizieq Shihab (IB HRS) di tanah suci, Makkah al-Mukarramah.
Sepenggal kisah perjalanannya menuju kediaman IB HRS dan sekelumit perbincangannya dengan tokoh sentral Gerakan 411 dan 212 itu di kota Mekah dituangkan mantan Pemred Tabloid OBOR RAKYAT itu dalam tulisan yang dimuat secara berseri di portal Kantor Berita Politik RMOL.ID. Atas seizin Setiyardi Budiono, Triasnews.com memuat kembali secara utuh tulisan tersebut, dalam 3 (tiga) bagian secara bersambung.    

TRIASNews – Mobil itu berjalan perlahan, dan kami mengikutinya sambil berjalan kaki. Beberapa blok, kami sampai di kediaman Habib. Sang pemandu berkata, “Sayyid?” Saya membenarkan kode itu.

Mata saya tertuju pada pintu gerbang setinggi dua setengah meter. Sang pemandu menunjuk pintu itu dari kejauhan. Saya ucapkan ‘syukron‘ berulang-kali. Dia menunduk, tangannya diletakan di dada. Sungguh sopan. Kemudian dia menghilang, meninggalkan kami di depan pintu gerbang itu.

Read More

Bersemangat saya menuju pintu besi yang tertutup rapat. Tak terlihat area dalam di balik tembok pagar. Saya pencet bel di sebelah pintu. Speaker di sebelah bel berbunyi, “Ma ismuka [siapa nama Anda]?” Saya sebut nama dan asal saya. Kemudian ada pertanyaan dalam bahasa Indonesia, siapa yang menyuruh datang. Saya sebutkan nama Ustad Abdul Wahid. Pintu pun terbuka. Dikendalikan dari jauh.

Saya masuk. Menaiki beberapa anak tangga. Seorang santri keluar menyambut kami. Saya lihat alas kaki di luar pintu. Saya pun mencopot sepatu, dan masuk ke ruangan depan. Di ruang 10 x 10 meter itu Habib Rizieq menerima para tamunya. Seluruh dinding dipenuhi beragam kitab. Ada foto Raja Salman dan Putra Mahkota. Tak ada foto lain. Hanya ada pigura besar berisi Asmaul Husna.

Setiyardi Budiono bersama Habib Rizieq Shihab (Dok. Pribadi)

Sebelum saya, sudah datang dua orang tamu lain. Dia pemilik Biro Umrah terbesar di Indonesia. Dia datang bersama orang Arab. Sebelum Habib Rizieq keluar, kami berbincang. Saya kagum atas kesuksesannya. Selama tiga bulan terakhir, jamaahnya 35 ribu orang.

“Di Jakarta kita ketemu. Ngopi-ngopi,” ujarnya. Saya menyambut hangat tawaran itu.

BACA JUGA: Memeluk Habib Rizieq di Mekah (Bagian 1)

Dua orang asisten Habib Rizieq menyiapkan minuman untuk kami. Teh mint dan air mineral. Beberapa jenis kurma, termasuk kurma ajwa asal Madinah, disajikan. Saya mencicipinya. Teh rasa mint itu mengingatkan saya pada beberapa restoran Arab di Jakarta.

Sejurus kemudian Habib Rizieq keluar dari ruangan pribadinya. Dia tersenyum lebar. Wajahnya ceria. Tampak sangat sehat.

Ahlan wa sahlan, ahlan wa sahlan,” ujar Habib Rizieq.

Dia memeluk kami satu per satu. Sungguh hangat.

Tak terasa mata saya berkaca-kaca. Saya bahagia bisa bertemua dengan tokoh yang di tubuhnya mengalir darah Rasulullah. Sekaligus bersedih karena Habib Rizieq terpaksa hidup di pengasingan karena persoalan politik.

***

Habib Rizieq adalah simbol utama ‘tokoh oposisi Indonesia’. Pendiri Front Pembela Islam [FPI] ini menjadi motor penggerak gerakan 411 dan 212 yang menumbangkan Ahok dari kursi Gubernur Jakarta. Habib Rizieq memegang komando yang diikuti jutaan peserta aksi di Monas, yang menggemparkan dunia itu.

Habib Rizieq kemudian didera dengan pelbagai ‘kasus hukum’, antara lain dugaan chat WA mesum dan dugaan penodaan Pancasila. Tapi Habib Rizieq tak kurang akal. Untuk menghindari penangkapan, sekaligus menyusun perlawanan, pada 26 April 2017 dia keluar negeri. Setelah transit di Malaysia, Habib Rizieq melanjutkan pelariannya ke Arab Saudi. Dia bermukim di Mekah, hingga kini.

Dan kedua masalah berat yang mendera Habib Rizieq itu kini berubah status. Polisi sudah menyatakan kasus itu memasuki babak baru: SP3. Artinya, polisi menganggap perkara itu sudah tidak ada. Dianggap selesai. Habib Rizieq memegang dokumen SP3 yang diantar langsung seorang petinggi Indonesia ke Arab Saudi.

Beberapa tamu lain datang. Antara lain KH Ahmad Sidiq, Mutasyar Nahdlatul Ulama dari daerah Jawa Timur. Dia datang bersama beberapa santri. Juga ada tamu lain yang masuk melalui Ustad Abdul Wahid.

Habib Rizieq membuka majelis dengan pembacaan umul kitab Al Fatiha. Kemudian bersama-sama membaca salawat Nabi. Mata saya kembali berkaca-kaca — saya teringat saat dalam Penjara Cipinang, tiap Jumat sore ikut majelis membaca salawat bersama narapidana lainnya. Kami melantunkan Maulid Simtudduror diiringi tetabuhan rebana.

***
Innâ fatahnâ laka fat-han mubînâ
Sesungguhnya Kami telah membentangkan bagimu (Wahai Muhammad) kemenangan yang gemilang.

Liyaghfiro lakallâhu mâ taqoddama min dzanbika wamâ ta-akhkhor
agar Dia Allah mengampuni dosa dosamu yang terdahulu dan yang akan datang.

Wa yutimma ni’matahu ‘alaika wa yahdiyaka shirôthon mustaqîmân
Dan menyempurnakan ni’matnya atasmu (Wahai Muhammad) dan Dia (Allah) memberimu petunjuk ke jalan yang lurus

***
Usai salawat, dilanjutkan kajian hadis. Dua asisten Habib Rizieq membacakan kitab hadis. Kali ini membicarakan tentang cara memohon pertolongan Allah saat menghadapi persoalan berat. Setelah keduanya usai membaca, Habib Rizieq mengkajinya. Kami semua menyimak.

Habib Rizieq menyampaikan kajian dua amalan seperti termaktub dalam hadist. Pertama, ‘Ya Hayyu Ya Qayyum birahmatika astaghess‘. Dan amalan kedua, yakni berasal dari Dzun Nuh saat ditelan ikan paus, ‘Laailahaila anta, Subhanaka inikuntu minadholimin.’

Setelah mengkaji secara mendalam, Habib Rizieq berwasiat, “Amalkan saat kita mengalami kesulitan. Insya Allah pertolongan datang dari arah tak diduga. Semua beban hilang.”

Kumandang adzan Ashar terdengar. Habib menghentikan tausyiah. Semua orang diminta ikut menyimak adzan. Menjawab setiap kalimat muadzin. (BERSAMBUNG BAGIAN 3)

Sumber asli: RMOL.ID

banner 300x250

Related posts