Memeluk Habib Rizieq di Mekah (Bagian 1)

  • Whatsapp
Setiyardi Budiono memeluk Habib Rizieq Shihab (Dok Pribadi Setiyardi)
Setiyardi Budiono, seorang wartawan senior (kini menjadi pemilik bisnis travel haji dan umroh terbesar di Provinsi Lampung) mengisahkan pengalamannya bersua dengan Imam Besar Habib Rizieq Shihab (IB HRS) di tanah suci, Makkah al-Mukarramah.
Sepenggal kisah perjalanannya menuju kediaman IB HRS dan sekelumit perbincangannya dengan tokoh sentral Gerakan 411 dan 212 itu di kota Mekah dituangkan mantan Pemred Tabloid OBOR RAKYAT itu dalam tulisan yang dimuat secara berseri di portal Kantor Berita Politik RMOL.ID. Atas seizin Setiyardi Budiono, Triasnews.com memuat kembali secara utuh tulisan tersebut, dalam 3 (tiga) bagian secara bersambung.    

TRIASNews – PEKAN lalu, saya umrah ke Tanah Suci. Saya memimpin jamaah Mitra Amanah Travelindo, mengunjungi Madinah dan Mekah. Saya ajak orang tua, kerabat dan sahabat dekat saja. Beberapa teman minta dijadwal ulang. “Gua akan berangkat bersama istri. Tolong atur kembali,” kata Wasekjen Demokrat Andi Arief, sahabat kecil saya.

Dan pesawat Saudi Airlines membawa kami menuju Bandara King Abdul Aziz, di Jedah. Alhamdulilah semua program berjalan lancar. Tak ada aral berarti.

Read More

Setelah rukun umrah beres, saya mengontak Ustad Abdul Wahid. Beliau orang kepercayaan Habib Rizieq Shihab yang menjadi satu-satunya kunci masuk ke tokoh pendiri Front Pembela Islam [FPI]. Tak ada jalur lain menuju Habib Rizieq.

Setiyardi Budiono (Dok pribadi)

Ustad Abdul Wahid tokoh di belakang semua pergerakan Habib Rizieq selama di ‘negeri pengasingan’, di Arab Saudi. Abdul Wahid, lelaki asli Sampang, Madura ini, sudah hampir 20 tahun bermukim di Arab. Dia paham kultur dan memiliki jaringan yang baik di sana.

Tak sembarang orang bisa bertemu Habib Rizieq. Banyak tokoh yang keinginannya tak dipenuhi. Seorang Ketua Lembaga Tinggi Negara +62, sebut saja inisialnya ‘L’, misalnya, tak diperkenankan datang.

Saya mendapat nomor kontak Ustad Abdul Wahid dari seorang wartawan Obor Rakyat, yang juga keponakan Habib Rizieq. Saya menghubungi Ustad Abdul Wahid via kanal WhatsApp. Setelah memperkenalkan diri, dan Ustad tahu saya pernah dipenjara oleh rezim Jokowi, beliau langsung merespon.

“Besok ba’da dhuhur Insya Allah diterima HRS di rumahnya”.

Saya lantas menanyakan alamat kediaman Habib Rizieq. Tapi hingga menit terakhir WA saya belum dijawab. Seorang jamaah, Zarkoni, adik KH Didin Hafizdudin, tahu saya sedang mengatur pertemuan dengan Habib Rizieq. “Kalau boleh, saya ikut,” katanya. Saya mengiyakan.

Malam hari Ustad Abdul Wahid kembali mengontak. Dia bertanya siapa saja yang akan datang. Sepertinya Ustad memverifikasi tamu yang berniat datang.

“Saya dan seorang teman. Namanya Zarkoni, adik KH Didin Hafizdudin,” ujar saya.

Kemudian WA kembali sepi. Tak ada komunikasi lanjutan. Pertanyaan saya tentang alamat rumah Habib Rizieq belum dijawab. Saya agak gamang.

Keesokan hari, 16 Januari 2020, menjelang dhuhur, saya ajak Zarkoni ke Masjidil Haram. Sedangkan jamaah yang lain hari itu saya buatkan program ke Kota Thaif, dipimpin Muthawif yang berpengalaman. Saya dan Zarkoni menunggu denting WA di Masjidil Haram. Setelah Dhuhur usai, saya tak kunjung mendapat alamat. Saya menunggu sambil berdzikir: Ya Rahman, Ya Rahiem

Sejam berlalu. Tiba-tiba Ustad Abdul Wahid mengirim WA. Isinya cuma share location alamat, di Nuzha, Mekah. Saya cek di telpon jaraknya sekitar 30 menit dengan taksi. Kami bergegas keluar masjid, mencari taksi di sekitar pertigaan Ajyad, depan Masjidil Haram. Dan taksi di Mekah tak sulit. Saya tujukan google maps yang di kirim Ustad Abdul Wahid. Sopir taksi asal Pakistan langsung paham.

“20 riyal,” katanya.

Kami langsung masuk taksi, dan menuju titik lokasi. Sopir taksi meminjam HP saya sebagai panduan. Dia tertawa karena instruksi google maps saya masih dalam bahasa Indonesia. Tapi dia paham. Setelah sampai di titik lokasi, sopir bilang itu sebetulnya bukan kawasan Nuzha. Sepertinya Ustad Abdul Wahid sengaja menyamarkan lokasi sesungguhnya rumah Habib Rizieq.

Kami turun dari taksi. Tak tahu harus kemana. Semua rumah di Mekah mirip. Bagunan kotak berwarna seragam. Saya segera kirim foto lokasi ke Ustad Abdul Wahid. Cuma ada jawaban “tunggu saja”.

Benar saja, 15 menit kemudian dari kejauhan ada mobil pick up tua dikendarai seorang Arab, dengan pakaian khas setempat. Dia membunyikan klakson berulangkali, sambil melambaikan tangan ke kami. Saya langsung paham. Mobil itu berjalan perlahan, dan kami mengikutinya sambil berjalan kaki. Beberapa blok, kami sampai di kediaman Habib. Sang pemandu berkata, “Sayyid?” Saya membenarkan kode itu … (BERSAMBUNG BAGIAN 2)

Sumber asli: RMOL.ID

banner 300x250

Related posts