Hikmah dari Penjual Soto

  • Whatsapp
Ilustrasi

Berbuat baiklah tanpa harus ada alasan apa yang akan  engkau dapatkan setelahnya, tetapi engkau melakukannya karena memang engkau orang baik yang selalu  ingin berbuat baik .

Triasnews — KALIMAT bijak di atas, yang saya kutip dari sebuah blog pribadi, agaknya sangat relevan dijadikan pesan syiar dari kisah yang dituturkan seorang warganet, melalui akun facebook (FB) pribadinya, yang memviral di media sosial (medsos) belum lama ini.

Read More

Warganet itu mengisahkan satu peristiwa sederhana namun penuh hikmah, yang ia saksikan langsung fragmen demi fragmen ceritanya. Pesan tersirat dari kisah yang dituturkan warganet ini adalah betapa, yang namanya, menebar kebaikan bakal berbuah kebaikan juga bagi diri si pemberi walaupun ia sendiri tak punya pamrih atasnya.

Begini kisahnya:

Petang hari itu, dalam perjalanan pulang kerja, saya mampir di sebuah kedai Soto Ayam Madura di Jalan Raya Halim, Cililitan, Jakarta Timur. Saya memesan semangkok soto ayam. Sambil menunggu soto tersaji, saya membaca koran. Sesekali mata saya menengok ke jalan raya yang masih ditingkahi kemacetan luar biasa. Nasi soto ayam tersaji di hadapan saya dan siap disantap tatkala, tiba-tiba, seorang ibu berusia setengah tua, berbusana sederhana, memasuki kedai soto sembari menggandeng dua anaknya yang masih Balita.

“Pak, berapa harga semangkok soto?” tanya sang ibu, dengan nada sedikit berbisik, kepada penjual soto.

“Sepuluh ribu, Bu,” jawab penjual soto sambil melempar seutas senyum.

Jeda sejenak, si ibu menyahut kembali.

“Kedua anak saya ini sangat ingin makan soto, Pak. Tapi… uang saya hanya ada tujuh ribu. Maaf Pak, apa bisa dibuatkan dua porsi soto dengan uang segitu. Cuma kuah dan sedikit sohun gak apa-apa, Pak,” ucap si ibu lirih. Ada nada keraguan di balik suaranya itu.

“Oh, mari Bu, silakan duduk,” jawab bapak penjual soto dengan nada sopan.  Tak sampai lima menit, tiga mangkok soto berukuran besar sudah ia hidangkan di hadapan si ibu dan kedua anaknya.

Kaget bercampur heran, si ibu berujar, “Tapi uang saya hanya tujuh ribu, Pak”

“Oh..nggak apa-apa, Bu. Ibu bertiga makan saja dan simpan uang Ibu itu ya,” timpal penjual soto.

Ibu itu tersenyum, kemudian membungkukkan tubuhnya dengan penuh hormat sambil mengucapkan terima kasih.

Saya yang menyaksikan dan mendengarkan langsung dialog tersebut begitu kagum dan terharu pada kebaikan hati bapak penjual soto. Saya pun menyantap nasi soto yang sempat terabaikan.

Sekitar 15 menit, si ibu dan kedua anaknya pun beranjak pergi sambil mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga kepada si bapak penjual soto.

Tak lama kemudian, seorang pemuda berpenampilan rada-rada “sangar”, yang dari tadi duduk dengan cuek menyendiri di pojokan, asyik memainkan telepon pintarnya juga beranjak dari tempat duduk. Menghampiri penjual soto dan menyerahkan uang Rp 100.000. Anehnya, si pemuda langsung ngeloyor pergi meninggalkan si penjual soto.

“Mas, ini kembaliannya,” kata bapak si penjual soto seraya menyodorkan uang. Jawaban si pemuda membuat saya terhenyak (kembali).

“Pak, saya makan satu mangkok nasi soto dan 1 bungkus kerupuk sama segelas teh manis. Saya bayar dengan uang itu. Nah, sisanya untuk bayar soto yang ibu dan dua anaknya tadi ya Pak,” tukas pemuda itu, sambil menghidupkan sepeda motor, dan langsung meninggalkan lokasi.

Masya Allah…Saya benar-benar terpesona oleh pertumbukan di antara  kebaikan-kebaikan yang dipertontonkan Allah SWT di depan mata saya, petang hari ini.

Si ibu miskin yang jujur serta tidak meminta-minta. Si bapak penjual soto yang baik hati. Sang pemuda sangar dan cuek yang ternyata pemurah. Saya sendiri pun ikut kecipratan kebahagiaan diberikan kesempatan menyaksikan fragmen hidup bertabur kebaikan itu. (AF)*

banner 300x250

Related posts