Kelimutu, Pesona Mistis dari Timur (1)

  • Whatsapp
Danau Kelimutu

Kelimutu, bagaikan gadis dari timur yang menggoda setiap mata memandanginya, memancarkan pesona anggun sekaligus misterius dengan keunikan warnanya yang berubah-ubah.

Danau Kelimutu

Triasnews – Kelimutu berasal dari kata ‘Keli’ yang berarti gunung dan ‘Mutu’ yang bermakna mendidih. Jadi, Kelimutu adalah Gunung dengan air yang mendidih.

Read More

Letusan terakhir Gunung Kelimutu pada Juli 1968 telah menciptakan 3 buah danau nan megah dan indah. Dengan volume air rata-rata 1,292 m3, serta ketinggian dinding kawah mulai dari 5 meter hingga 150 meter, Danau Kelimutu menjadi incaran wisatawan lokal dan mancanegara.

Danau Kelimutu

Berada di dalam kawasan Taman Nasional Kelimutu, areal ini mencakup 5,356 hektar. Kawasan ini menjadi simbol persatuan bagi desa desa yang berada di bawahnya. Letaknya yang berada di ketinggian 1,640 mdpl juga menjadikan kawasan Taman Nasional Kelimutu ini menjadi salah satu tempat sejuk dengan potensi pengembangan buah, terutama apel dan jeruk.

Danau-danau yang ada di puncak Gunung Kelimutu tersebut adalah Danau Ata Polo/Suanggi (Tiwu Ata Polo), Danau Pemuda Pemudi (Tiwu Ko’o Fai Nuwa Muri), dan Danau Orangtua (Tiwu Ata Bupu).

Danau Kelimutu

Danau yang pertama, Tiwu Ata Polo, adalah danau tempat bersemayamnya arwah mereka yang selama hidupnya melakukan kejahatan. Danau kedua, Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai, merupakan tempat beristirahat bagi mereka yang meninggal dalam usia muda, ataupun mereka yang timbangan amal baik dan buruknya seimbang. Sedangkan danau terakhir, Tiwu Ata Bupu, dikhususkan bagi arwah orangtua ataupun bagi mereka yang memiliki kebijaksanaan selama hidupnya.

Berubah warna

Ketiga danau yang berada di puncak Gunung Kelimutu menjadi daya tarik tersendiri karena memiliki warna seolah-olah di cat. Warnanya pun berubah ubah tanpa ada tanda tanda sebelumnya.

Danau Kelimutu

Menurut dugaan, mineral yang terlarut didalam air di ketiga danau tersebut yang menyebabkan perubahan warna pada ketiga danau tersebut. Tidak hanya mineral yang terlarut, faktor cuaca juga diduga turut mempengaruhi perubahan warna ketiga danau keramat bagi masyarakat Suku Lio tersebut.

Berdasarkan temuan investigasi Dr. Greyjoy Pasternack dari University of California pada tahun 1992, ketiga danau yang ada di puncak Gunung Kelimutu ini adalah danau Vulkanik. Ketiga danau tersebut memiliki sumber gas vulkanik yang sama, tetapi sebagai akibat dari transportasi gas yang subakuatis, menghasilkan reaksi kimia yang berbeda-beda di setiap danau.

Danau Kelimutu

Danau-danau ini memiliki paparan geokimia dan hidrothermal yang unik, dan urutan sejarah khusus perubahan warna dikendalikan oleh perubahan kondisi fisika kimia.

Oksigen menjadi elemen paling penting dalam perubahan warna danau sama seperti darah pada tubuh manusia. Jika air danau kekurangan oksigen, maka danau akan tampak berwarna hijau. Sebaliknya, jika air danau kekurangan oksigen, maka danau akan kelihatan berwarna merah tua sampai hitam.

Selain dari oksigen yang menjadi penentu perubahan warna danau, mineral lain yang juga memainkan peranan adalah sulfur/belerang.

Tiwu Ata Polo (Danau Orang Jahat) adalah danau dengan kandungan “asam garam” kategori sedang, perubahan warna pada danau ini lebih disebabkan oleh oksidasi air danau. Tiwu Ata Polo ini memiliki tingkat aktivitas sedang dibanding dua danau lainnya.

Danau Kelimutu

Tiwu Ko’o Fai Nuwa Muri (Danau Muda Mudi) adalah danau dengan kadar asam rendah serta mengandung senyawa sulfur paling tinggi. Diperkirakan , sedimen dari danau ini mengandung mineral yang kaya akan tembaga. Dari ketiga danau kelimutu tersebut, Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai memiliki frekuensi aktivitas vulkanik paling tinggi.

Tiwu Ata Bupu (Danau Orangtua) memiliki “asam sulfat” yang memiliki gas lebih tinggi dibanding dua danau lainnya.

Sebelum pengunjung menanjaki tangga menuju danau, terdapat tanda peringatan berisi aturan yang harus ditaati yaitu tidak meninggalkan rute yang telah ditandai. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah pengunjung merusak tanaman muda, mengganggu binatang ataupun hal hal yang dapat membahayakan keselamatan pengunjung sendiri.

Selain itu, para pengunjung juga diimbau tidak tidak membuang sampah sembarangan. Dikhawatirkan sampah yang dibuang dapat merusak pemandangan serta mencari ekosistem air dan tanah di sekitar kawasan Danau Kelimutu.

Imbauan berikutnya untuk para pengunjung adalah tidak membuat kebisingan atau membuka musik secara keras keras. Ini bertujuan agar satwa liar penghuni kawasan Kelimutu tidak terganggu serta para pengunjung berkesempatan untuk bisa melihat satwa liar tersebut lebih dekat. Dilarang memberi makan monyet juga menjadi kewajiban yang harus ditaati oleh para pengunjung Danau Kelimutu sebab dengan memberi makan monyet akan menyebabkan monyet menjadi terlalu dekat dengan pengunjung dan menjadi agresif, menarik-narik barang bawaan pengunjung  bila tidak diberikan makanan. Terakhir, para pengunjung juga dilarang bermalam/menginap di sekitar kawasan parkir Danau Kelimutu.

Gerbang utama Danau Kelimutu bukanlah pintu pada saat pengunjung membayar karcis masuk melainkan pada sebuah simbol tungku yang dikenal dengan nama Pere Konde.

Pere Konde, pintu gerbang Kelimutu

Pere Konde sendiri dipercaya oleh masyarakat Suku Lio sebagai gerbang bagi para arwah yang telah meninggal dunia. Lokasi Pere Konde ini sendiri adalah  sebuah tebing batu yang terlihat menyerupai gerbang. Masyarakat yang menempati kawasan sekitar Danau Kelimutu percaya bahwa tempat ini dijaga oleh seseorang yang dipanggil dengan sebutan Konde Ratu. Masyarakat juga percaya, Konde Ratu menjadi pengadil bagi arwah yang akan memasuki ketiga danau yang ada di puncak Gunung Kelimutu, sesuai dengan usia serta amal perbuatan mereka selama di dunia. (Cahyadi Ende/AF)*

banner 300x250

Related posts