Kelimutu, Pesona Mistis dari Timur (2)

  • Whatsapp

Triasnews — Selain tiga danau yang berubah-ubah warna yang menjadi primadona utama, Kelimutu menawarkan sejumlah obyek menarik lainnya yang bisa memanjakan mata pengunjung.

Arboretum di Taman Nasional Kelimutu (TNK) yang memiliki flora dan fauna langka dan upacara adat Pati Ka adalah dua contoh magnet Kelimutu yang bisa dinikmati pengunjung.

Read More

Arboretum sendiri adalah tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan. Nah, di Kelimutu sendiri arboretum ini terletak di lahan seluas 4,5 hektar yang diperuntukkan sebagai lokasi wisata pendidikan dan penelitian.

Taman Nasional Kelimutu

Fungsi utama dibangunnya Arboretum yang berada di dalam kawasan Danau Kelimutu ini adalah tempat koleksi keanekaragaman jenis flora TNK. Ada 79 jenis tanaman yang berada di dalam Arboretum ini, termasuk di dalamnya  tanaman bawah atau tanaman perdu (15 jenis) dan 3 jenis tanaman endemik. Jumlah total tanaman di Arboretum sebanyak 250 item.

Arboretum Taman Nasional Kelimutu

BACA JUGA: Kelimutu, Pesona Mistis dari Timur (1)

Tanaman-tanaman tersebut di antaranya adalah Begonia kelimutuensis Wiriadinata,dalam bahasa lokal biasa disebut Uta Onga, yakni tanaman endemik TNK. Begonia kelimutuensis memiliki ciri ciri yang sedikit berbeda dengan suku Begoniaceae lainnya yaitu berciri Terna bercabang, batang kayu, daun bentuk bulat telur, daun tidak simetris, pinggir daun bergigi lebar, dan warna daun hijau mengkilat.

Karena memiliki rasa asam di lidah, Begonia kelimutuensis bukan hanya menjadi tanaman hias, tapi juga digunakan sebagai sayur lalapan atau urap yang biasa dimakan bersama ubi yang dikeringkan oleh masyarakat sekitar TNK.

Adapun untuk satwa di TNK, yang paling menarik bila kita berkunjung ke Danau Kelimutu adalah Burung Garugiwa (Pachycephala nudigula), yaitu burung berkicau endemik Flores yang salah satu habitatnya berada di TNK.

Burung Garugiwa

Masyarakat sekitar TNK mempercayai burung Garugiwa sebagai burung arwah.Ciri khas burung Garugiwa yaitu memiliki suara yang sangat nyaring, Burung Garugiwa ini tergolong hewan yang cerdas karena dapat menirukan suara dari lingkungan di sekitarnya.

Di area TNK, Garugiwa dapat dijumpai pada ketinggian >1000 mdpl dan pengunjung biasanya melihat satwa ini aktif di dalam hutan. Untuk bisa melihat Burung Garugiwa di area TNK, pengunjung disarankan untuk bisa datang lebih awal di pagi hari.

Lokasi para pengunjung agar mudah dapat menjumpai Burung Garugiwa ini adalah di areal parkiran dan anjungan Garugiwa di areal Danau Kelimutu. Selain Burung Garugiwa, ada lagi Elang Flores (Nisaetus Flores), berukuran badan sekitar 60-80 cm, tubuh bagian atas berwarna gelap (coklat kehitaman) sedangkan bagian bawah berwarna putih, ujung sayap bagian bawah berwarna hitam.

Elang Flores

Ekor Elang Flores memiliki 6 garis melintang. Biasanya Elang Flores ini akan terbang berputar di sekitar kawasan TNK untuk mencari mangsa buruannya seperti tikus hutan ataupun burung-burung berukuran kecil lainnya.

Selain koleksi flora dan fauna, di dalam area Arboretum juga terdapat jalur ‘trekking’ bagi pecinta’ trekking’. Sebenarnya ,jika kita meluangkan waktu untuk melewati jalur ‘trekking’ ini, maka kita dapat mendengar kicauan berbagai jenis burung yang hidup di sekitar kawasan danau. Fasilitas yang terdapat di dalam kawasan Arboretum, ini selain jalur ‘trekking’. adalah tempat duduk dan shelter.

Penghormatan pada gunung berapi

Kehidupan masyarakat sekitar yang masih lekat dengan mistik juga menjadi salah satu pesona daya tarik wisata yang tidak boleh dilewatkan di Kelimutu. Salah satu tradisi masyarakat di sana adalah penghormatan terhadap gunung berapi di Danau Kelimutu.

Setiap tahun, sebelum hari-H peringatan kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus, masyarakat Lio Kelimutu datang bersama-sama untuk merayakan sebuah ritual yang disebut Upacara Pati Ka atau lengkapnya Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata atau ritual memberi makan arwah leluhur.

Upacara Pati Ka

Upacara Pati Ka dilaksanakan di areal dekat 3 Danau Kelimutu, karena ketiga danau ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya arwah para leluhur masyarakat lio baik di tiwu (danau) Ata Bupu, Ko’o Fai Nuwa Muri dan Ata Polo.

Upacara Pati Ka ini dilaksanakan oleh Para Mosalaki (ketua adat) yang datang bersama sama ke areal upacara dengan membawa persembahan berupa makanan dan minuman bagi arwah leluhur. Doa dan pujian dipanjatkan dengan diiringi tradisional Gawi serta lagu lagu tradisional.

Upacara Pati Ka

Melalui upacara Pati Ka, masyarakat Lio Kelimutu mengungkapkan rasa syukur atas tahun yang telah berlalu melalui doa yang dipimpin oleh Mosalaki. Lewat doa itu, masyarakat Lio Kelimutu meminta keberkahan, kesejahteraan, dan kehidupan yang lebih baik untuk tahun mendatang.

Masyarakat suku Lio Kelimutu yang mendiami sekitar danau Kelimutu percaya, jika jiwa atau arwah (maE) para leluhur akan datang ke Danau Kelimutu setelah mereka meninggal dunia. Jiwa atau mereka akan meninggalkan kampung halaman mereka dan tinggal di salah satu danau yang ada di puncak Gunung kelimutu untuk selama lamanya.

Sebelum masuk ke salah satu danau, para arwah tersebut terlebih dahulu harus menghadap Konde Ratu selaku penjaga Danau Kelimutu yang bersemayam di Pere Konde. Arwah tersebut akan masuk ke salah satu danau yang ada tergantung dari usia saat ia meninggal serta amal perbuatan yang dilakukan selama didunia.

Tradisi memberi makan para leluhur di Danau Kelimutu ini, selain sebagai upacara adat bagi masyarakat setempat, juga menjadi even wisata tahunan di Kelimutu dan menjadi puncak kegiatan sepekan Festival Danau Kelimutu di Ende, Flores, NTT.

Pesanggrahan Belanda

Satu lagi keunggulan dari destinasi wisata Danau Kelimutu yang harus dikunjungi adalah Pesanggrahan Belanda. Pesanggrahan Belanda ini merupakan sebuah bangunan yang dibangun pada masa penjajahan Belanda di Flores. Bangunan ini merupakan tempat persinggahan dan peristirahatan pegawai pemerintah Hindia Belanda saat berkunjung ke Danau Kelimutu atau beristirahat ketika bepergian dari/ke kota Ende sebelum ada jalan raya.

Bangunan Pesanggrahan Belanda ini memiliki gaya arsitektur gabungan antara arsitektur Belanda dan arsitektur Lio. Material yang digunakan adalah semen sebagai pondasi dengan dinding setengah tembok sebagai ciri arsitektur belanda digabung dengan material kayu dan alang-alang sebagai penutup atap bangunan yang merupakan ciri bangunan masyarakat suku lio.

Pesanggrahan Belanda

Bangunan ini memiliki 2 lantai, lantai pertama terdapat kamar tidur, ruang perapian, dapur, toilet dan kamar mandi, sedangkan lantai kedua merupakan ruang luas tanpa sekat/penghalang yang di mana ruang ini dipergunakan selain untuk tidur juga menyimpan bahan makanan dan barang batmrang penting. Kedua lantai ini dihubungkan oleh tangga kayu yang diletakkan disamping tungku perapian.

Pesanggrahan Belanda tinggal puing

Setelah kemerdekaan bangunan ini digunakan sebagai Pos Pengamatan Gunung Api oleh Pemerintah Republik Indonesia. Akibat bertambahnya usia bangunan dan kurangnyanya pemeliharaan, bangunan Pesanggrahan Belanda ini akhirnya tidak dapat dipakai lagi dan hanya menyisakan puing-puing tembok yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Destinasi pesanggrahan Belanda ini sangat diminati terutama oleh para wisatawan yang datang dan ingin belajar tentang wisata sejarah dan budaya terutama mengenai peninggalan pemerintahan kolonial Belanda selama berada di Kabupaten Ende, NTT. (Cahyadi Ende/AF)*

banner 300x250

Related posts