Jajaki Bisnis E-Commerce, Food Station Kendalikan Harga Beras di Ibukota

  • Whatsapp
Frans M Tambunan, Direktur Operasional PT Food Station Tjipinang Jaya, tengah berikan penjelasan kepada perwakilan BI Jawa Tengah yang berkunjung ke Food Station (Istimewa)

Platform dagang-el milik PT Food Station Tjipinang Jaya mempermudah proses distribusi beras kepada konsumen, sehingga turut berkontribusi menjaga inflasi, terutama di wilayah DKI Jakarta.

Triasnews — Sebagai perusahaan berbentuk BUMD milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, PT Food Station Tjipinang Jaya kini juga telah menerapkan teknologi bisnis e-commerce dalam memasarkan produknya.

Read More

Dengan platform dagang-el, Food Station memperluas pangsa pasar untuk produk komoditas beras, menjaga stabilitas harga beras di tingkat konsumen, serta mempermudah proses distribusi beras kepada konsumen, sehingga turut berkontribusi menjaga inflasi, terutama di wilayah DKI Jakarta.

“Dari sisi perusahaan, kontribusi penjualan melalui e-commerce ini memang masih relatif kecil, namun sangat membantu kebutuhan warga DKI Jakarta,” kata Frans M. Tambunan, Direktur Operasional PT Food Station Tjipinang Jaya, kepada Triasnews.

Suasana di Pasar Induk Cipinang

Food Station turut menjamin ketersediaan suplai beras dan menjaga stabilitas harga beras di wilayah DKI Jakarta, melalui kontrol pada pasokan dan sebagai pemain pasar.    

Sebagai informasi, 10 juta jiwa penduduk DKI Jakarta membutuhkan beras sebanyak 2.500-3.500 ton setiap hari. Dari mana pasokan beras itu bisa terpenuhi? Food Station menggandeng gabungan kelompok tani (Gapoktan), koperasi tani dan penggilingan padi, umumnya dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung dan Sulawesi Selatan, dalam menjamin ketersediaan pasokan beras sebanyak itu.

Frans menyebut, pasokan beras kadang tidak mencukupi akibat sejumlah faktor: cuaca, direbut daerah lain yang berani membayar dengan harga lebih mahal, dan faktor aturan dari pemerintah yang sering berubah-ubah.

“Inilah yang sering menjadi kendala bagi kami dalam upaya menjamin ketersedian pangan di Ibukota,” terang Frans.

Saat ini, ada tiga BUMD Pemprov DKI Jakarta yang bertugas memenuhi kebutuhan pangan penduduk Ibukota, yaitu PD Pasar Jaya (pengelola 153 pasar), PD Dharma Jaya (pengelola daging ayam dan daging sapi), dan PT Food Station Tjipinang (pemilik pasar induk cipinang, sekaligus pengelola komoditas kering seperti beras, telur, gula, minyak goreng dan sebagainya).  

Ketiga BUMD saling bersinergi dan berbagi tugas. Food Station dan Dharma Jaya bergerak dari hulu, sebagai penyedia pangan. Sedangkan PD Pasar Jaya dari hilir sebagai distributor yang langsung ke masyarakat.

Sejak berdiri tahun 1974, Food Station, memiliki beberapa fungsi strategis di antaranya menjamin ketersediaan suplai beras di DKI Jakarta dengan tingkat harga yang terjangkau oleh masyarakat.

Food Station juga menjadi instrumen pemerintah untuk mengendalikan harga beras di DKI Jakarta, pusat perdagangan beras, dan juga sebagai pasar beras terbesar di Indonesia.

“Artinya, DKI Jakarta ini menjadi barometer dan pusat perdagangan beras antardaerah, antarpulau, dan menjadi acuan harga bagi pasar beras secara nasional,” cetus Frans.

Fungsi Food Station terakhir, penyangga pasar beras untuk DKI Jakarta dan daerah-daerah sekitarnya, Jabodetabek, dan menggambarkan isu perberasan secara nasional.

“Jadi kalau ingin melihat harga beras aman atau tidak, bisa dilihat di Pasar Induk Tjipinang ini. Sebab, setiap hari beras 3.000 ton beras masuk ke Jakarta, dan sekitar 70 persen dari jumlah itu masuk melalui Pasar Induk ini,” tandas Frans. (AF)*

banner 300x250

Related posts