Bandara Tampa Padang: Menghubungkan Mamuju dengan Dunia Luar

  • Whatsapp
Bandara Tampa Padang, Mamuju, Sulbar

TRIASNews – Keberadaan bandar udara (Bandara) Tampa Padang, Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) memberikan dampak signifikan bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat Kabupaten Mamuju pada khususnya, dan Provinsi Sulbar pada umumnya.

Apalagi sekarang sudah disiapkan terminal baru di Bandara Tampa Padang yang bisa menampung lebih banyak penumpang.

Read More

Bandara yang terletak di Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulbar ini dikelola oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud), kementerian Perhubungan RI.

Saat berbincang dengan TRIASNews, Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Tampa Padang, Mamuju, c S.SiT, mengatakan, saat ini terdapat dua maskapai penerbangan yang beroperasi di Bandara Tampa Padang, yaitu Wings Air dengan rute Mamuju-Makassar (PP) dan maskapai Garuda Indonesia dengan rute Mamuju-Makassar.

Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Tampa Padang, Mamuju, Wahyu Anwar, S.SiT

Bandara Tampa Padang pernah pula melayani penerbangan perintis yang melayani rute Mamuju-Makassar, Mamuju-Sumarorong Mamasa, Mamuju-Tana Toraja, dan Mamuju-Bone, Mamuju-Samarinda, Mamuju – Balikpapan dan Mamuju – Kota Baru Kal-sel menggunakan maskapai Aviastar Mandiri dan Susi Air.

Untuk mengoptimalkan pengoperasian pesawat udara, Bandara Tampa Padang difasilitasi dengan landasan pacu berukuran 2.500 m x 45 m dengan dua taxiway.

Para penumpang pesawat di bandara Tampa Padang Mamuju

Bandara Tampa Padang berjarak sekitar 27 km dari pusat kota Mamuju. Penumpang pesawat udara dapat menunggu penerbangan di sebuah terminal yang memiliki kapasitas ± 200 orang.

Wahyu mengisahkan sekelumit sejarah kehadiran Bandara Tampa Padang di Mamuju. Bandara Tampa Padang didirikan pada tahun 1978. Pada masa itu, status Bandara ini masih merupakan Lapangan Terbang Perintis (Lapter) yang dipimpin oleh seorang Kepala Lapangan Terbang Perintis (Kelapter).

“Bandara ini dibangun karena geografi wilayah Mamuju dan sekitarnya yang cukup terisolasi, tidak memiliki sarana dan prasarana serta infrastruktur yang memadai di bidang transportasi,” terang Wahyu.

Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Tampa Padang, Mamuju, Wahyu Anwar, S.SiT berfoto di landasan pacu pesawat

Selain itu, bentang alam Mamuju yang dikelilingi banyak pegunungan membuat daerah ini sulit dijangkau, sehingga jalannya roda ekonomi Mamuju pun menjadi terhambat.

Pengoperasian Bandara Tampa Padang pertama kali ditandai dengan mendaratnya pesawat milik PT Merpati Nusantara Airlines yang berjenis Twin Otter (DHC-6) berkapasitas 18 penumpang.

Seiring dengan meningkatnya jumlah penumpang, kata Wahyu, Kantor UPBU Tampa Padang melakukan peningkatan fasilitas dan pelayanan dengan membangun terminal pada tahun 1990 dan melakukan pengaspalan landasan pacu pada tahun 2003.

Pendampingan dari Penegak Hukum

Berkaitan dengan program peningkatan sarana dan prasarana di Bandara Tampa Padang, Wahyu Anwar mengatakan untuk mencakup itu semua, pihaknya butuh dukungan, perlu pengawasan, untuk menghasilkan pekerjaan tepat waktu, tepat mutu, dan tepat sasaran.

“Apalagi ini pekerjaan di Bandara yang menyangkut keamanan, keselamatan, dan kenyamanan manusia, dalam hal ini para penumpang. Untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan itu, kami perlu didampingi oleh pihak-pihak terkait seperti Kejaksaan. Kami datangi pihak kejaksaan untuk meminta pendampingan, monitoring dan evaluasi,” ujar Wahyu.

Wahyu lantas menunjuk proyek pembangunan Terminal Baru Bandara Tampa Padang Mamuju yang memakai anggaran APBN bernilai milyaran rupiah, sebagai pekerjaan terbaru Kantor UPBU Tampa Padang yang mendapatkan pendampingan dari kejaksaan.

Pembangunan Terminal Baru Bandara Tampa Padang ini, menurut Wahyu, karena terminal yang ada yang dibangun pada tahun 2009 dinilai tidak lagi memadai untuk menampung jumlah penumpang yang semakin hari semakin membludak di Bandara Tampa Padang.

“Jadi selama dua tahun terakhir ini, kami bangun terminal baru seluas kurang lebih 5000 m². Diharapkan, dengan adanya terminal baru dengan segala fasilitas di dalamnya, Bandara Tampa Padang akan semakin ramai oleh pengguna jasa penerbangan,” cetus Wahyu.

Wahyu menuturkan, berkat adanya pendampingan dari kejaksaan, pihaknya merasakan kenyamanan dalam melaksanakan pekerjaan peningkatan sarana dan prasarana di Bandara Tampa Padang.

“Mulai dari tahap perencanaan, tahap lelang, ke tahap pelaksanaan pekerjaan, hingga pekerjaan tuntas dan dioperasikan, kami tidak pernah putus komunikasi dengan pihak kejaksaan yang telah memberikan pendampingan hukum,” aku Wahyu Anwar.

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh para rekanan Kantor UPBU Tampa Padang yang melaksankan pekerjaan di lapangan. Mereka bekerja maksimal tanpa diliputi perasaan tertekan.

“Para rekanan selalu kami ajak serta setiap kami mengadakan pertemuan konsultatif dengan pihak kejaksaan. Sehingga para rekanan kami bisa menyaksikan sendiri sejauh mana sinergi kami dengan pihak kejaksaan dalam mengawal pekerjaan,” ungkap Wahyu.

Wahyu Anwar pernah bertugas sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) proyek pembangunan/pengembangan Bandara Syukuran Aminuddin Amir Kabupaten Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng). Rupanya bersamaan waktunya, dirinya juga ditugaskan memimpin proyek pembangunan satu Bandara lainnya, yakni Bandara Tanjung Api, di Kabupaten Tojo Una-una, Sulteng.

“Jadi waktu membangun dua Bandara itu secara bersamaan, kami mendapatkan dua pendampingan masing-masing dari Kejaksaan Negeri Luwuk Banggai dan dari Kejaksaan Negeri Ampana,” tukasnya.

Dari Luwuk Banggai, Wahyu Anwar berpindah tugas ke Bandara Manokwari, Papua Barat. Di sana, selaku Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara Manokwari, Wahyu juga meminta pendampingan hukum dari Kejaksaan Manokwari.

“Alhamdulillah, semua pekerjaan kami di daerah-daerah berbeda itu bisa diselesaikan sesuai rencana dan harapan, sama seperti yang kami kerjakan saat ini untuk Bandara Tampa Padang di Mamuju. Itu semua berkat adanya sinergi dengan pihak kejaksaan,” imbuh Wahyu Anwar.

Wahyu menggarisbawahi, dengan adanya pendampingan seperti itu, pihaknya selalu mendapatkan masukan dan dukungan dari pihak kejaksaan, tak hanya berupa pendampingan dari bidang intelijen kejaksaan tetapi juga berupa pertimbangan hukum ataupun bantuan hukum dari bidang Datun kejaksaan selaku jaksa pengacara negara (JPN).

Provinsi Sulbar yang beribukotakan Mamuju ini terbilang unik. Saat ini, Sulbar memiliki 6 kabupaten. Tiga kabupaten yaitu Polman, Mamasa, dan Majene secara geografis cenderung lebih dekat ke Kota Makassar, ibukota provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Warga ketiga kabupaten di Sulbar itu terutama dari Majene, jika ingin ke Mamuju, maka mesti melewat jalan-jalan yang berkelok-kelok.

Kemudian warga Kabupaten Mamuju Utara lebih memilih ke Palu, ibukota Sulawesi Tengah, sebagai pintu transit ke Makasar. Hanya butuh waktu 2,5 jam dari Mamuju Utara ke Palu.

Sedangkan untuk ke Mamuju, warga Mamuju Utara membutuhkan waktu sampai 5 jam perjalanan darat.

Bandara Tampa Padang, kata Wahyu, ke depan diproyeksi akan menjadi pilihan warga Kabupaten Mamasa, yang hendak ke Makassar. Saat ini, infrastruktur jalan dari Mamasa ke Mamuju sudah relatif bagus. Waktu tempuh Mamasa- Mamuju bisa hanya 4 jam jika jalan sudah 100% mulus terhubung dari Mamasa ke Mamuju. (ETD/AF)*

banner 300x250

Related posts