AP I Rasakan Manfaat Pendampingan dari Kejaksaan

  • Whatsapp
Direktur Teknik PT Angkasa Pura I (Persero) (AP I), Lukman F. Laisa

Manajemen PT Angkasa Pura I (Persero) merasakan manfaat yang luar biasa dari keberadaan TP4 Kejaksaan RI, yang bertugas memberikan pendampingan dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan penugasan pemerintah mengembangkan dan membangun bandar-bandar udara (bandara) di Indonesia.

Kala bertugas sebagai Direktur Teknik (Dirtek) PT Angkasa Pura I (Persero) (AP I), Ir. Lukman F. Laisa, mengaku menerima beban tugas yang luar biasa berat. Pada tahun 2018 itu, AP I mendapatkan investasi sebesar Rp 18,8 triliun. Sedangkan di tahun 2019, investasinya Rp 17,5 triliun.

Read More

“Jadi, ada beban investasi yang besar untuk pekerjaan tiga Proyek Strategis Nasional (PSN) dan ada juga banyak proyek strategis perusahaan yang belum diselesaikan ketika saya diberi amanah untuk memegang jabatan sebagai Direktur Teknik di Angka Pura I,” ungkap Lukman F. Laisa kepada TRIASnews, saat dimintai tanggapan seputar manfaat TP4/TP4D, salah satu program institusi Kejaksaan RI.

Direktur Teknik PT Angkasa Pura I (Persero) (AP I), Lukman F. Laisa,
sedang mengawasi proyek pembangunan bandara

Ketika mendapatkan tugas yang berat terkait proyek-proyek berskala strategis nasional di AP I, Lukman mengaku selalu memperhitungkan secara realistis dengan sejumlah pertanyaan mendasar: apakah proyek-proyek tersebut aman atau tidak,dan bisa diselesaikan atau tidak.

Termasuk yang mesti diantisipasi adalah bagaimana menghadapi kondisi-kondisi di luar misalnya gangguan dari oknum, kemudian bagaimana memenuhi target waktu yang diinginkan pemerintah supaya proyek itu bisa lebih cepat selesai, sementara kontrak kerja yang ada relatif kontrak normal.

Ir. Lukman F. Laisa, Direktur Teknik PT. Angkasa Pura I bersama Menteri PUPR RI, DR. Ir. Basuki Hadimuljono, M.Sc

“Hal-hal semacam itu yang menjadi tantangan kami sehingga kami memutuskan untuk mendapatkan pendampingan dalam arti kata pengawalan dan pengamanan dari penegak hukum,” kata alumnus Teknik Sipil, Institut Teknologi Nasional Malang ini.

Saat ia menerima tugas berat di AP I itu, Lukman sudah mendengar bahwa ada TP4 dan TP4D dari institusi kejaksaan yang memang dibentuk untuk memberikan pengawalan dan pengamanan (Walpam) pada proyek-proyek strategis nasional.

Direktur Teknik PT Angkasa Pura I (Persero) (AP I), Lukman F. Laisa, tengah berikan penjelasan kepada Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubowono X

Sesuai prosedurnya, pihak AP I kemudian mengajukan permohonan pendampingan Walpam kepada TP4/TP4D Kejaksaan Agung (Kejagung) RI yang dikoordinir oleh Jamintel Kejagung.Setelah melalui beberapa tahapan, akhirnya permohonan AP I disetujui Kejagung untuk diberikan pendampingan TP4/TP4D karena proyek-proyek yang ditangani AP I bernilai strategis nasional dan menyangkut kepentingan masyarakat luas.

Mantan Kepala Bandara Wamena Papua, Ditjen Hubud, Kemenhub RI (2015), memberikan ilustrasi seputar manfaat yang diperoleh AP I dari pendampingan hukum oleh TP4/TP4D.

Direktur Teknik Navigasi Penerbangan Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau yang sekarang dikenal sebagai AirNav Indonesia (2015-2017) itu lantas menunjuk pekerjaan pengadaan alat pemadam kebakaran (Damkar) yang sejak tahun 2014 tak kunjung selesai. Namun, setelah meminta pendampingan dari TP4, pekerjaan tersebut bisa berjalan sukses tanpa menimbulkan ekses apapun.

Lukman yang pernah menjabat Kepala Bagian Perencanaan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud), Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI (2014-2015) itu mengisahkan, AP I punya pekerjaan pengadaan pemadam kebakaran di bandara-bandara, yang sejak 2014 tidak bisa berjalan lancar. Penyebabnya, kata Lukman, baru berjalan sebentar, sudah ada pemeriksaan di pusat karena banyak laporan terkait proyek tersebut.

“Walaupun nilai anggarannya tidak besar, tapi mempertimbangkan bahwa proyek ini menyangkut keselamatan penerbangan, sesuatu yang sangat urgen dibutuhkan disetiap bandara,apalagi alat-alat Damkar di bandara saat ini relatif berusia tua, saya putuskan untuk meminta pendampingan dari TP4. Akhirnya, berkat Walpam dari TP4, pengadaan alat Damkar di bandara itu akhirnya bisa terlaksana. Kita bersama tim TP4 meninjau langsung ke pabrik alat Damkar itu dari hulu sampai hilirnya,” kata mantan Kepala Sub Direktorat Kerja Sama Angkutan Udara pada Ditjen Hubdar, Kemenhub RI.

Manfaat Pendampingan

Menurut Lukman F. Laisa, selama didampingi oleh TP4/TP4D, pihak AP I dapat melaksanakan dan menyelesaikan semua pekerjaan pengembangan dan pembangunan bandar udara (bandara) sesuai target.Manakala ada permasalahan di lapangan, pihaknya bisa setiap waktu berdiskusi dan berkonsultasi dengan TP4 guna mendapatkan solusinya.

“Yang kami sangat pahami sampai hari ini, mengingat proyek-proyek yang kami kerjakan itu harus cepat (tepat waktu), tepat mutu, tepat sasaran, dan tepat anggaran, selama mendampingi kami, tim TP4 selalu mengingatkan bahwa panduan utama pekerjaan adalah kontrak kerja.Selama ini, kontrak kerja dengan pihak pelaksana pekerjaan tidak bisa sempurna.Contohnya, saat kami mengerjakan proyek pengembangan Bandara Internasional Minangkabau di Kota Padang,” terang pria 51 tahun kelahiran Gorontalo ini.

Lukman mengakui, keberadaan manfaat TP4/TP4D sangat dirasakan.Percepatan pekerjaan bisa dimaksimalisasi oleh pelaksana karena semua unsur pelaksana tidak lagi dibayang-bayangi keraguan, kekhawatiran, apalagi ketakutan dalam melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan pembangunan.

Singkatnya, saya pribadi menginginkan agar model Walpam dan pendampingan seperti TP4/TP4D tetap diadakan apapun namanya, karena model pendampingan itu sangat membantu kami di AP I menyelesaikan pekerjaan pembangunan.

Begitu pula halnya bagi AP I, tak ada rasa sungkan untuk berkonsultasi dengan TP4/TP4D guna membahas dan menyampaikan semua masalah di lapangan.Kinerja TP4/TP4D, kata Lukman, sangat profesional dan menganyomi sehingga membuat pihak AP I merasa nyaman bekerja.

“Mereka tidak hanya memberikan sinyal bahwa ini bermasalah, tapi juga memberikan solusi taktis langkah-langkah apa yang harus kami ambil agar pekerjaan tetap berlangsung dengan cepat.Alhamdulillah, TP4dan TP4D sangat luar biasa mendampingi kami melaksanakan dan menyelesaikan proyek-proyek strategis lainnya seperti di Manado, Lombok, Makassar, dan Surabaya,” beber Lukman.

“TP4 Kejaksaan RI membantu kami dalam menyelesaikan,misalnya, perbedaan tafsir kontrak, sehingga tidak ada kegamangan kami dalam memutuskan setiap persoalan proyek,” ujar Lukman F. Laisa.

Dengan adanya pendampingan dari TP4/TP4D, lanjut Lukman, pelaksanaan proyek yang dikerjakan AP I menjadi transparan, akuntabel, dan sesuai dengan prinsip tata kelola yang baik dan benar (good governance).

“Dari mulai tahap perencanaan, pelaksanaan pekerjaan oleh kontraktor, hingga pengawasanterhadap pekerjaan, TP4 memberikan pengawalan dan pengamanan agar tidak terjadi tindakan yang tidak sesuai dengan kaidah danaturan hukum yang belaku. Sebab, didalam timTP4 itu sangat lengkap ada unsur intelijen, pidana khusus (pidsus), dan unsur perdata tata usaha negara (datum) yang saling melengkapi, sehingga kalau ada yang berbuat tidak patut bisa diperiksa oleh intel ataupun Pidsus,” terang Lukman.

Tak hanya itu. Lukman menambahkan, TP4 juga mampu meminimalisir adanya gangguan dari ekternal yakni pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang terkait dengan upaya-upaya pelanggaran hukum dan akan menganggu kelancaran untuk kepentingan diluar kegiatan proyek pembangunan yang tengah dikerjakan oleh AP I.

“Jadi secara umum,kami sangat mengapresiasi dan merasakan manfaat kehadiran TP4 Kejaksaan RI, karena peran TP4 membantu kami di permasalahan aspek legalnya, permasalahan dengan pihak eksternalnya, permasalahan regulasinya, dan yang tak kalah pentingnya adalah spirit kuat melekat pada TP4 yakni pencegahan (preventif) kerugian keuangan negara,” kata Lukman.

Lukman mengatakan, bukan hanya dirinya tapi juga rekan/koleganya di AP I merasa sedih mendengar TP4 akandibubarkan. Lukman dan rekan-rekan di AP I menjadi gamang seperti apa nantinya jika tidak ada pendampingan dari penegak hukum seperti yang selama ini didapatkan dari TP4/TP4D.

“Singkatnya, saya pribadi menginginkan agar model Walpam dan pendampingan seperti TP4/TP4D tetap diadakan apapun namanya, karena model pendampingan itu sangat membantu kami di AP I menyelesaikan pekerjaan pembangunan,” pungkas Lukman F. Laisa. (AF)*

LUKMAN F. LAISA (Bioprofil)

Pria kelahiran Gorontalo inisangat berpengalaman kerja di dunia perhubungan udara.Alumnus Teknik Sipil Institut Teknologi Nasional Malang pada tahun 1992 ini menjabat Direktur Teknik PT Angkasa Pura I (Persero)berdasarkan SK Menteri Negara BUMN Nomor: SK-53/MBU/03/2018 tanggal 5 Maret 2018.

Lukman F. Laisa

Selama dua tahun (2015-2017), Lukman menjabat Direktur Teknik Navigasi Penerbangan Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau yang sekarang dikenal sebagai AirNav Indonesia.

Jadi, selama ini, Lukmansudah terbiasa bekerja di lingkungan proyek investasi. Di AirNav Indonesia pun iamenangani investasi. Sebelum bergabung dengan AirNav Indonesia, Lukman sudah malang melintang berkarir di lingkungan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI.

Pada 2017-2018, Menteri Perhubungan (Menhub) RI, Budi Karya Sumadi, mempercayakan jabatan Kepala Sub Direktorat Kerja Sama Angkutan Udara pada Ditjen Hubdar, Kemenhub RI.

Saat bertugas di lingkungan Kemenhub sebelumnya, Lukman juga menjadi pengawas regulator dan juga menangani banyakproyek investasi. Ia pernah juga menjabat Kepala Bidang P2B Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah III Surabaya (2014-2015), Kepala Bagian Perencanaan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI (2014-2015),Kepala Bandara Wamena Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI (2015),dan Kepala Seksi Program dan Standardisasi Prasarana Bandar Udara Direktorat Bandar Udara Kementerian Perhubungan RI (2010-2013). (AF)*

banner 300x250

Related posts