Anak Seorang Sopir, Wisudawan Berprestasi Fisika ITB 2019

  • Whatsapp
M. Reza Nurahman, wisudawan terbaik ITB 2019
Reza Nurrahman bersama keluarga di hari wisuda (Istimewa)

Reza Nurrahman dinobatkan sebagai wisudawan berprestasi Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) 2019. Predikat Cum Laude dengan IPK 3,98 ia raih. Ia hanya anak seorang sopir.

Triasnews — NAMA Muhammad Reza Nurrahman sebulan terakhir menjadi viral dalam perbincangan di media sosial dan pemberitaan di media mainstream. Daya pikat pemuda ini sehingga jadi perbincangan dan pemberitaaan bersumber dari prestasi yang ia raih. Apa itu?

Read More

Pada kegiatan wisuda ITB Oktober 2019 silam, sosok Reza menuai kekaguman khalayak. Ia dinobatkan sebagai wisudawan berprestasi Fisika ITB tahun 2019 dengan predikat cum laude. IPK yang dicapainya 3,98.

Reza berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi rendah. Ekonomi keluarganya sangat jauh dari layak. Ayahnya, Wawan, hanya seorang sopir. Rumahnya sangat sempit beralaskan tanah. Tim survey ITB yang berkunjung ke kediaman Reza terkait pengajuan bea siswa Reza kepada ITB sampai menggeleng-gelengkan kepala, berdecak kagum. 

Tim survey menilai, orangtua calon Reza yang akan diberi bea siswa itu benar-benar dari keluarga tidak mampu. Mereka salut karena orangtua Reza mampu menyekolahkan anaknya dengan baik sampai tembus seleksi ke ITB melalui program Bidik Misi.

Sebelum berkuliah di ITB, Reza mondok dan bersekolah di Pondok Pesantren Darul Falah, Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Keadaan ekonomi keluarga Reza memang serbakekurangan. Serba susah dalam segala hal, tidak menjadikan orangtuanya gagal dalam mendidik anak-anaknya.  Kakak Reza, Firman, bahkan menjadi guru honorer di salah satu sekolah swasta. Tidak jarang, honor Firman yang tidak seberapa nilainya ia diberikan kepada Reza untuk keperluan kuliahnya di ITB.

“Buat biaya kuliah Reza saja. Dia lebih membutuhkan daripada saya,” kata Firman kepada ibunya, Ika.  Reza dan Firman sering harus berpuasa Senin-Kamis untuk mengurangi biaya makan.  Mereka juga membuka les belajar Matematika dan Fisika di rumahnya yang kecil itu untuk menambah-nambah biaya kuliah. Anak-anak yang mengikuti les di Reza sangat kerasan, karena dia mengajar dengan sabar dan gampang dimengerti.

Saat masih SMA, Reza  mewakili SMA Darul Falah mengikuti Olimpiade Sains Tingkat Nasional (OSN). Ia berhasil meraih juara ke-1 tingkat Kabupaten, juara ke-1 tingkat Propinsi, dan juara ke-2 tingkat Nasional di Mataram, NTB. 

Lulus dari SMA, Reza mendaftar ke ITB melalui program Bidik Misi. Lulus tanpa syarat sebagai mahasiswa Program Studi Fisika, Fakultas MIPA (Matematika dan IPA) ITB. Bahkan, saat disurvey ke rumahnya, tim surveyor hanya bisa menggelengkan kepala. Rumah kecil dengan kondisi lantai setengah tanah. Di depan rumah, motor GL butut berwarna hitam kusam teronggok, untuk menemani Mang Wawan berangkat kerja.

Selama di  ITB, Reza setiap semester dipastikan menjadi juara dan membuktikan dia mahasiwa unggulan. Bahkan tahun 2018, dia terpilih mengikuti program KAIST di Korea. Piagam dan sertifikat memenuhi dinding kuning kusam rumah orangtuanya yang gelap dan lembab. Mungkin karena kecerdasan dan prestasinya, oleh dosen seringkali Reza dibawa ke proyek penelitian di seluruh Indonesia. Malah beberapa kali mewakili ITB mengikuti seminar, pelatihan dan penelitian.

Terbukti bukan kaya miskinnya seseorang, bukan tingginya jabatan orang tua yang menjadikan baik buruknya seseorang.   Keberhasilan mereka selalu saya jadikan contoh untuk anak-anak. Kalau kita berusaha keras, tanpa lelah, fokus dan tidak melupakan yang Maha Kuasa, Allah SWT, pasti berhasil.

Jangan Menyerah Raih Mimpi

Semenjak kelas VII SMP, ia sangat menyukai Fisika. Saat salah seorang gurunya mengatakan, Program Studi Fisika ITB merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia, sejak itu ia bertekad untuk kuliah di ITB.

“Saat Reza kecil ditanya oleh guru mau kuliah di mana, saya selalu menjawab dengan lantang, ‘Fisika ITB, Bu!’ walaupun belum tahu ITB itu seperti apa, di mana dan bagaimana seluk-beluknya. Pokoknya yang saya pikirkan saat kecil hanya satu, saya ingin menjadi ilmuwan. Saya ingin masuk ITB,” tutur Reza saat menyampaikan pidato perwakilan wisudawan Prodi sarjana pada Sidang Terbuka Wisuda Pertama ITB Tahun Akademik 2019/2020 di Sabuga, Sabtu (19/10/2019).

Finalis Mahasiswa Berprestasi dari FMIPA pada 2018 itu mengaku tak menyangka akan dipilih mewakili teman-temannya memberikan kata sambutan. Saat pertama kali menjadi mahasiswa ITB, ia bukan siapa-siapa dan tidak pernah terpikir akan berdiri di podium menyampaikan kata sambutan.

Reza bercerita, meskipun dirinya sempat ragu untuk melanjutkan studi di bidang sains karena anggapan bahwa bidang sains sulit berkembang di Indonesia, apalagi jika menjadi ilmuwan, namun berkat masukan dari guru SMA-nya, Reza mantap memilih FMIPA sebagai pilihan pertama saat SBMPTN.

Saat berkuliah di ITB Reza memilih untuk menikmati semua prosesnya, baik suka maupun dukanya. Prestasi yang pernah ia torehkan adalah meraih medali Perak ONMIPA Tahun 2017 dan 2018, Juara 2 OSN Mahasiswa Nasional Tahun 2017 dan menjadi finalis mahasiswa berprestasi FMIPA Nasional Tahun 2018. Selain prestasi, ia juga mendapat kesempatan internship di KAIST selama tiga bulan. Saat mengikuti internship itulah ia dapat merasakan atmosfer penelitian yang kuat dengan etos kerja yang tinggi. 

Selama berkuliah, tantangan terbesar yang ia hadapi muncul ketika melakukan penelitian, mengalami kegagalan setelah berjalan selama tiga bulan membuat ia nyaris menyerah.

Namun Drs. Alexander Agustinus Iskandar, Ph.D, dosen pembimbing skripsinya, selalu memberinya semangat.

”Jika kita dihadapkan pada permasalahan yang bahkan banyak puzzle yang mesti dipecahkan, maka inilah penelitian yang sesungguhnya. Jika kamu bisa memecahkannya, maka kamu akan merasakan betapa bahagianya menjadi fisikawan,” ungkap Reza, mengutip Alexander.

Perjuangan tak kenal lelah Reza berbuah manis. Ia lulus dengan IPK 3.98 dan meraih sejumlah prestasi. Semua itu didapatkannya dari kesungguhan dan sikap pantang menyerah.

Ia memiliki prinsip untuk tidak mengeluh dan menyerah atas semua tantangan yang dihadapi dalam meraih mimpi, dan yang terpenting adalah berjuang dan berdoa.

“Jangan pernah berpikir kalau cita-cita itu terlalu tinggi, karena ketika sudah bersungguh-sungguh untuk meraihnya mudah bagi Tuhan untuk menjadikan itu nyata. Dan seandainya jika tidak tercapai maka rencana Tuhan itu lebih baik,” cetusnya. (Anis Fuadi)*

banner 300x250

Related posts