2 Tahun Silam, Bayi Icha Ditolak Puskesmas dan Akhirnya Meninggal Dunia

  • Whatsapp
Ilustrasi Ibu bawa anak sakit di Puskesmas

TRIASnews – Dua tahun silam, juga di bulan Desember 2017, viral di media sosial (medsos) kisah pilu Emiti (34), seorang perempuan di Brebes, yang kehilangan bayinya Icha Selfia, lantaran pihak Puskesmas menolak menangani anak berusia 7 bulan yang sakit dalam kondisi darurat itu dengan alasan kurang syarat administratif.

Padahal, untuk mencapai lokasi Puskesmas, warga Desa Sidamulya, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah itu mesti berjalan kaki sejauh 1, 5 Km sembari menggendong bayinya.

Read More

Air mata terus menderas dari kedua mata Emiti saat mengisahkan pengalaman buruknya bersama sang buah hati tercinta, yang kini telah dipanggil Sang Pencipta.

Makam Icha Selfia (Liputan6.com)

Kesedihan semakin tak mampu Emiti tahan ketika berada di depan pusara almarhumah Icha Selfia, yang meninggal dunia, pada Minggu (10 Desember 2017).

Nyawa bayi mungil itu tak tertolong lantaran tidak mendapatkan penanganan medis dari puskesmas setempat. Si bayi ditolak dengan alasan kelengkapan administrasi.

Emiti mengatakan, anak bungsunya itu mulai merasakan sakit sejak Jumat (8 Desember 2017) malam . Icha mengalami gejala muntah dan berak (muntaber) secara terus-menerus.

Malam itu, ia pun langsung membawa sang bayi ke tukang urut yang berada tak jauh dari kediamannya. Namun si tukang urut memintanya membawa bayi ke Puskesmas Sidamulya.

Jalan Kaki 1,5 Km

Keesokan harinya, sekitar pukul 10.00 WIB, Emiti berjalan kaki membawa anaknya ke Puskesmas yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari rumahnya. Sesampai di Puskesman yang dituju, bukannya mendapat penanganan dari tim medis Psukesmas, ia bersama bayinya malah ditelantarkan berjam-jam.

“Saya tidak dilayani sama sekali di sana. Padahal saat itu ada tiga petugas puskesmas. Memang saya akui dari keluarga miskin, tapi enggak seharusnya mendapat perlakuan seperti ini,” tutur Emiti. .

Alasan penolakan pihak Puskesmas, menurut Emiti, karena dia tidak membawa Kartu Indonesia Sehat (KIS) atas nama anaknya yang meninggal dunia tersebut. Dia hanya membawa kartu jaminan kesehatan miliknya sendiri.

“Anak saya kan belum punya KIS karena masih bayi. Saya bawa KTP sama Jamkesmas punya saya,” imbuhnya.

Hampir setengah jam ia berdiri seperti patung kuda. Merasa tak akan mendapat penanganan, dia pun akhirnya pulang. Emiti sempat mampir ke bidan di dekat rumahnya, tapi yang bersangkutan tidak ada.

Akhirnya, ia membeli obat seadanya untuk anaknya di warung dekat rumah.

Keesokan harinya, Minggu (10 Desember 2017) sekitar pukul 10.00 WIB, Icha menghembuskan nafas terakhirnya. Nyawa bayi malang itu tak bisa diselamatkan akibat lambannya penanganan.

“Saya tidak ridho anak saya diperlakukan seperti itu,” cetusnya dengan menitikkan air mata. (AF)*

banner 300x250

Related posts